Selasa, 13 April 2010

Sudahkah Tertib Berlalu Lintas?

Bingung saja mengetahui kalau di Jakarta ternyata baru diterapkan pemakaian helm berstandar nasional. Kok bisa ya? Bukankah sebagai kota metropolitan seharusnya menjadi percontohan bagi kota-kota lainnya di Indonesia tentang aturan berlalu lintas yang baik dan benar. Tidak sengaja sih mengetahui hal tersebut saat menonton berita di salah 1 stasiun TV swasta nasional sore tadi yang memberitakan bahwa Direktorat Lalu Lintas Metro Jaya melancarkan operasi Simpatik Jaya 2010. Operasi itu dilancarkan untuk merazia pengendara sepeda motor yang tidak mematuhi aturan berlalu lintas sebagaimana yang tertuang dalam undang-undang nomor 22 tahun 2009.

Yang menarik dari razia tersebut adalah banyaknya pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya ternyata beragam. Ada yang mengatakan tidak tahu kalau ada peraturan semacam itu. Ada juga yang mengatakan helmnya ketinggalan di rumah. Bahkan ada yang beralasan tidak suka menggunakan helm SNI karena berat dan bisa membuat kepala pusing. 

Kenapa Jakarta sebagai Ibukota Negara baru menerapkannya ya? Padahal, di kotaku saja, Samarinda yang tidak masuk 5 kota besar di Indonesia, sudah sejak 6 bulan yang lalu menerapkan aturan tersebut. Dan sejauh ini, aturan itu sukses diterapkan. Buktinya adalah menurut penglihatanku, disetiap ruas jalan yang kuamati, baik si pengendara sepeda motor maupun yang dibonceng telah menggunakan helm standar. Mau bukti lagi? Dari survey yang aku lakukan sewaktu menyusuri Tepian Mahakam yang banyak menjual helm standar, penjualan helm standar SNI tersebut laris manis bak pisang goreng. Ini menandakan bahwa masyarakat Samarinda mulai sadar mengenai pentingnya penggunaan helm standar untuk keselamatan. Atau jangan-jangan ini hanyalah sebuah bentuk ketakutan untuk menghindari denda yang besar apabila kena tilang. Terserahlah! Resiko ditanggung masing-masing. 

Bukan hanya helm standar saja yang menjadi isu hangat pada waktu itu. Pemakaian kaca spion pun tak luput dari perhatian. Hmmm….bukan rahasia umum lagikan, kalau di Indonesia, kebanyakan pengendara sepeda motor hanya memasang kaca spion pada bagian kanannya saja. So, dengan adanya peraturan lalu lintas yang baru ini, semua pengendara sepeda motor wajib memasang kaca spion dikedua sisi, kanan dan kiri. Alhasil, sama seperti saudaranya, kaca spion pun laris manis. Sampai-sampai sempat terjadi kelangkaan lho. Akibatnya, ada saja orang jahat yang memanfaatkan situasi ini dengan mencuri kaca spion pada motor yang sedang diparkir, lalu dijual lagi di pasar gelap (Emang ada pasar terang?), dengan tujuan yang semua orang pasti tahu, untuk mendapatkan keuntungan disaat kelangkaan itu terjadi. 

Peraturan lalu lintas yang baru ini merupakan peraturan yang satu paket. Jadi mengatur banyak hal. Selain mengatur tentang helm standar, penyalaan lampu disiang hari dan pemasangan kaca spion kanan kiri, peraturan ini juga memberikan denda yang ‘selangit’ bagi pengendara sepeda motor yang tak memiliki SIM. Itu sebabnya, di Mapoltabes Samarinda, Jalan Bhayangkara, antrian untuk mengurus SIM baru panjang sekali kaya ular. Aku saja perlu waktu 1 bulan untuk mengurus SIM baru tersebut. Harus bolak-balik untuk mendapatkan waktu yang pas dan lowong dari membludaknya pemohon. Nah, ketahuan kan baru mau mengurus kalau ada sanksi. Sungguh sikap yang tak patut ditiru. Tidak tahu ya, apakah ini sudah menjadi budaya sebagian masyarakat Indonesia harus diancam terlebih dahulu dengan sanksi berat baru mau mengurus sesuatu. Entahlah! Tanya kenapa?

5 komentar:

  1. makasih mas ifan sudah berkunjung ke blog sil yang di blogspot...

    BalasHapus
  2. @Isil : Sama-sama
    @Delia : Terima kasih atas kunjungannya

    BalasHapus
  3. memang begitu, mas. diancam dulu baru deh pada taat.hehee

    BalasHapus