Selasa, 20 Juli 2010

Pada Sebuah Forum

Pada bulan April yang lalu, selama 4 hari, tepatnya dari tanggal 15 sd. 18 April 2010, aku mengikuti kegiatan di suatu forum mengenai “Kajian Penyadaran dan Pendampingan dalam Penguatan Kedamaian” yang diselenggarakan oleh Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI. Acaranya berlangsung di sebuah hotel di bilangan Jalan Juanda Samarinda.

Dalam kegiatan tersebut dibahas tentang bagaimana mengelola konflik etnoreligius. Topik ini diangkat menjadi bahasan mengingat di Indonesia konflik-konflik yang melibatkan agama dan etnik sering terjadi. Mulai dari peristiwa Situbondo (10 Oktober 1996), Tasikmalaya (26 Desember 1996), Ambon (1999), Pekalongan (24-26 Maret 1997), Temanggung (6 April 1997), Banjarnegara (9 April 1997), dan lain-lain. Konflik bernuansa etnik misalnya peristiwa Sanggauledo (Januari dan Februari 1997) dan peristiwa Sampit Palangkaraya pada 7 Maret 1999 yang kemudian merembet ke Kuala Kapuas.

Peserta forum ini berasal dari 6 unsur agama dan mayoritas adalah mahasiswa

Kegiatan ini berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam dengan beberapa kali break. Hmmm…kalau ingat itu, badan rasanya mau remuk. Benar-benar melelahkan. Apalagi, kadang-kadang schedule yang telah disusun panitia tidak berjalan sesuai rencana. Contohnya nih, kegiatan yang seharusnya berakhir jam 10 malam, eh ternyata molor dan baru berakhir pada jam 11 malam. Penyebabnya antara lain karena narasumber pada forum itu terlalu bersemangat menyampaikan materi dari A sampai Z secara detail, hingga para peserta yang tidak mau mengalah dalam setiap perdebatan diskusi. Tidak tahu ya, kalau mata ini sudah tinggal 5 watt.

Gaya para peserta yang sedang sibuk berdiskusi

Para peserta dari kegiatan ini terdiri dari unsur 6 agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Peserta tersebut rata-rata adalah para mahasiswa yang mewakili organisasi keagamaan dari ke-6 unsur agama diatas. Tentu saja kalau mahasiswa yang menjadi peserta, pemikiran mereka terhadap masalah yang tengah dibahas lebih kritis, tajam dan kadang melawan arus. Kalau kusimpulkan nih, para mahasiswa pada kegiatan forum tersebut memiliki tingkat intelektual yang bagus serta idealisme yang juga tinggi.

Disela-sela kegiatan, diselipkan juga permainan yang bersifat edukatif sekaligus menghibur. Antara lain : permainan menyambung kata menjadi kalimat, permainan menghapalkan angka-angka, permainan merebahkan diri dan juga permainan-permainan lain yang berunsur mengasah kemampuan otak dan konsentrasi. Suasananya pun menjadi lebih rileks dan tidak kaku.

Disela-sela kegiatan, diselipkan permainan (ice breaking) yang melatih konsentrasi

Ada banyak hal yang didapat dari kegiatan tersebut. Beberapa diantaranya adalah mengetahui apa itu konflik, sumber konflik, akibat konflik dan cara penanganan konflik. Meski banyak manfaat yang bisa diambil. Namun, jujur aku tidak terlalu enjoy dengan kegiatan ini. Bagaimana mau enjoy? Aku sendiri saja tidak mempunyai bekal pengetahuan yang cukup mengenai topik bahasan dalam kegiatan forum tersebut. Sebenarnya yang seharusnya menjadi peserta adalah temanku. Tapi karena ada kesibukan lain, akhirnya ia berhalangan hadir dan akulah yang diminta dari pihak panitia untuk menggantikannya. Tanpa persiapan, kuikuti juga kegiatan forum tersebut. Alhasil, kalau diprosentasekan, aku cuma aktif sekitar 35% saja. Selebihnya, cuma jadi pendengar doang!

Terlepas dari enjoy tidaknya aku dalam kegiatan tersebut, ada beberapa hal yang sempat kurangkum dari materi tentang konflik etnoreligius, sebagai berikut :
  1. Indonesia adalah bangsa yang sangat majemuk, baik dari sisi budaya, etnis, bahasa, dan agama. Dari sisi agama, di Indonesia hidup berbagai agama besar di dunia, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Selain itu, tumbuh dan berkembang pula berbagai aliran atau kepercayaan local yang jumlahnya tidak kalah banyak.
  2. Kemajemukan tersebut pada satu sisi menjadi modal kekayaan budaya dan memberikan keuntungan bagi bangsa Indonesia karena dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi yang sangat kaya bagi proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Namun pada sisi lain, kemajemukan bisa pula berpotensi mencuatkan social conflict antarumat beragama yang bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terutama bila keanekaragaman tersebut tidak dapat dikelola secara baik.
  3. Kelompok-kelompok dalam masyarakat suatu bangsa atau Negara yang mengalami pemilihan sosial secara terkonsolidasi, termasuk Indonesia tentunya, cenderung mengembangkan identitas kelompok yang kuat dan lebih mudah menciptakan kohesi kelompok yang kokoh. Dalam kelompok-kelompok semacam inilah kesadaran konflik cenderung tinggi. Sebagai akibatnya, ketika sebuah kelompok, baik kelompok agama, etnik, maupun budaya, terlibat konflik dengan kelompok yang lain maka intensitas konflik tersebut cenderung tinggi. Individu-individu dalam masyarakat dengan konfigurasi pemilihan sosial yang terkonsolidasi cenderung lebih mudah melakukan subyektivitas konflik.
  4. Di Indonesia persoalan yang sebenarnya sepele dapat dengan mudah menjadi konflik yang meluas dan berubah menjadi konflik agama atau etnik. Konflik agama dan etnik itu tidak hanya menimbulkan korban harta benda dan jiwa, yang tak kalah pentingnya adalah merusak harmoni kehidupan masyarakat yang telah terbentuk sekian lama.
  5. Penyelesaian konflik sosial yang terjadi di Indonesia seringkali dilakukan dengan tidak terlebih dahulu memahami akar persoalan yang menjadi penyebab meledaknya konflik tetapi lebih banyak dilakukan dengan menggunakan tindakan represif. Pengunaan tindakan-tindakan refresif dalam penyelesaian konflik sosial tersebut bukan saja tidak menyelesaikan konflik yang terjadi, melainkan juga mengakibatkan meluasnya konflik yang pada gilirannya berubah menjadi gerakan revolusioner yang keras.
  6. Dalam upaya mencegah berulangnya konflik sosial yang terjadi, penyelesaian konflik atau resolusi harus dilakukan secara komprehensif-holistik, baik pencegahan konflik yang untuk memelihara perdamaian (peace keeping), mendorong transisi dan transformasi konflik dengan upaya membentuk perdamaian (peace making) dan mendorong rekonsiliasi dengan membangun perdamaian (peace building). Resolusi konflik mestinya juga dilakukan dengan merujuk pada penyelesaian nyata (manifest) dengan melakukan perubahan sikap, pandangan, tingkah laku dan juga tujuan akhir pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
  7. Salah satu bentuk pencegahan, penanganan, dan penyelesaian konflik sosial dapat dilakukan dengan memfungsikan pranata sosial yang hidup dimasyarakat. Pada umumnya, masing-masing komunitas mempunyai pranata sosial sendiri yang berfungsi sebagai sarana peredam konflik diantara mereka. Pranata sosial itu bisa berbentuk norma, nilai, kepercayaan, dan budaya yang diakui bersama. 
  8. Harus disadari bahwa upaya pencegahan, penanganan, dan penyelesaian konflik etnoreligius di Indonesia tidak bisa diselesaikan secara alamiah, tetapi diperlukan kepedulian berbagai pihak untuk membuat rekayasa sosial berupa langkah-langkah strategis penyiapan infrastruktur yang tangguh mencegah, mengelola, dan menyelesaikan konflik etnoreligius di masyarakat secara cepat, tanggap, dan menyeluruh.
Sebagian isi dikutip dari buku PANDUAN PENGELOLAAN KONFLIK ETNORELIGIUS DENGAN PENDEKATAN RISET AKSI PARTISIPATORIS kerjasama Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Indonesian Institute for Civil Society (INCIS).

23 komentar:

  1. wah... memang keragaman bisa positif atau negatif ya..

    *btw, seneng jg ya kayaknya di forum itu, terlepas dari kekurangan2nya... ^^

    BalasHapus
  2. Arif Chasan : Benar kata kamu. Keragaman bisa berdampak positif dan negatif. Tinggal cara kita menanganinya saja seperti apa.

    BalasHapus
  3. Wah konflik ini memang selalu terjadi gan.
    Kerukunan harus diutamakan

    BalasHapus
  4. Yang penting tetap bersatu, agar bisa menjadi bangsa yang utuh dengan segala kemajemukannya.

    BalasHapus
  5. forum yang menyenangkan tapi kok foto yang kedua gambarnya gimana gitu..hihi

    BalasHapus
  6. Acaranya bagus juga sptnya... Apalagi peserta diajak untuk mengetahui apa itu konflik, sumber konflik, akibat konflik dan cara penanganan konflik.

    BalasHapus
  7. acara yang sangat bagus...
    semoga bsa menjadi inspirasi buat para pembaca...
    ^^

    BalasHapus
  8. Tomo : Setuju, kerukunan harus kita utamakan untuk menghindari perpecahan.

    Arief Borneo : Alhamdullillah sukses.

    Pelangi Anak : Persatuan memang jadi modal utama untuk menciptakan kedamaian.

    Tukang Colong : Memangnya kenapa ya?

    Aby Umy : Setuju sekali.

    Catatan Kecilku : Benar sekali. Wawasan kita menjadi terbuka tentang tema konflik ini.

    Riesta : Semoga. Kita juga berharapnya seperti itu.

    BalasHapus
  9. Indonesia banyak sekali budaya suku dan agama. Makanya tidak heran banyak orang yang suka berselisih pendapat atas dasar budaya suku dan agama. Pentingnya juga disini adalah kita kudu menghargai orang yang berbeda dari kita. Entah itu beda budaya suku atau agama. Demi terciptanya persatuan dan kerukunan..

    BalasHapus
  10. dengan adanya keragaman ras di Indonesia, acara seperti ini sangat bermanfaat sebagai sosiaLisasi mengenai pentingnya kerukunan antara sesama mahLuk sosiaL.
    terima kasih atas sharenya.

    BalasHapus
  11. Gamer GPM : Persatuan dan Kesatuan bangsa menjadi modal utama dalam menciptakan kehidupan yang damai meski berbeda latar belakang.

    Om Rame : Keragaman harusnya menjadi modakl yang bagus bagi bangsa ini untuk mencipta kejayaaan di kancah dunia internasional.

    BalasHapus
  12. dengan perbedaan harusnya bisa saling melengkapi.. bukan malah membuat tercerai berai...

    acara seru yaa.. bener2 menambah pengetahuan.. :)

    BalasHapus
  13. wah sob aku baru sempet blogwalking nih, setelah kemarin kemarin sibuk didunia offline, iya sob walaupun beda harus tetap satu. semangat selalu sob :)

    BalasHapus
  14. serruu banget kayaknya forumnya...
    boleh gabung gak bang irfan? >_<

    BalasHapus
  15. Ieyaz : Betul. Perbedaan jangan dijadikan alasan untuk bercerai-berai tapi harus dijadikan modal persatuan.

    Four Dreams : Semangat juga ya dan sukses selalu.

    Ketawa Bersama Oby : Memang seru sih tapi lumayan melelahkan.

    BalasHapus
  16. differences don't make us separated hhe nambah ilmu baru tuh!

    BalasHapus
  17. Fahma Nurika : Wow...sampai pakai bahasa inggris segala. Intinya aku setuju deh dengan pendapat kamu. Hehehe...

    BalasHapus
  18. cewek baju merah di foto kedua itu lagi ngapain brader?

    BalasHapus
  19. Tukang Colong : Sedang menuliskan hasil kesimpulan dari diskusi :)

    BalasHapus
  20. saya sepaham Pak, dengan apa yg teLah dimaksudkan. sehingga dengan keragaman ras ini, biLa dapat bersatu padu maka haL yang memungkinkan mendapat tanggapan yg positif dari negara Luar. dimana, kita dapat meminimaLisir konfLik dan para wisatawan manca negara pun akan Lebih tertarik Lagi untuk berkunjung ke indonesia, baik hanya sebagai tempat Liburan maupun sebagai temapt peneLitian tertentu tentang kebudayaan. sehingga dengan demikian, haL tsb dapat di tiru oLeh pihak asing.

    BalasHapus
  21. Ngintip dulu aaaahhh... hehehehehe...
    http://tribrata.blogdetik.com/2010/09/28/hobby-ngintip-part-2/

    BalasHapus