Minggu, 28 November 2010

Selamat Tinggal Buku Harian

Diary atau buku harian adalah sesuatu yang pernah kuakrabi pada jaman SMP SMU dulu. Segala hal tentang peristiwa hidupku kutuliskan dengan sangat detail dalam buku harian tersebut. Bisa dibilang, buku harian telah menjadi saksi akan adanya kesedihan, kebahagian, peristiwa baik, peristiwa buruk, hal-hal yang kadang memalukan, dan berbagai macam perasaan yang terendap di jiwa dan hati ini.

Aku sebenarnya tidak mengerti mengapa kebiasaan menulis di buku harian ini bisa terbentuk pada diriku. Padahal, menulis di buku harian biasanya jamak dilakukan oleh kaum wanita yang katanya cenderung mengandalkan perasaan dalam bertindak. Apa mungkin karena aku adalah pribadi yang agak tertutup sehingga segala sesuatu lebih nyaman aku curahkan lewat tulisan ketimbang harus mengungkapkannya kepada orang lain? Entahlah. Bisa jadi benar dan menjadi jawaban serta alasan yang cukup kuat dari pertanyaanku itu.

Karena buku harian ini sifatnya pribadi, yang tidak hanya berisi catatan putih tetapi juga tentang hitam kelam kehidupan, maka aku menyimpannya dengan amat rahasia. Tidak kubiarkan orang lain menemukannya apalagi sampai menjamahnya (karena bisa bahaya kalau buku harian tersebut terbaca orang, perasaan malulah yang bakal kutanggung). Sempat juga mengikuti saran dari sebuah artikel di majalah untuk menuliskan hal-hal baik saja di buku harian tersebut. Tapi lagi-lagi itupun tidak berhasil. Aku kembali pada kebiasaan pola lamaku.

Sampai akhirnya kuputuskan (dengan berat hati) untuk mengakhiri saja perjalanan buku harian ini. Dan kupikir, ini lebih baik daripada nantinya bisa menjadi bumerang dikemudian hari. Dengan tekad yang bulat, kurobek-robek buku harian tersebut lalu kubuang kedalam tong sampah. Selesai dan akupun lega.

Lama aku vakum dari kegiatan tulis-menulis. Ada semacam kerinduan, tapi bingung mau menyalurkannya dimana. Sampai akhirnya aku menemukan media yang tepat, yaitu blog. Dengan berbekal pengetahuan yang minim, aku mempelajarinya. Perlahan aku mulai memahami seni dari kegiatan menulis di blog ini. Dan yang pasti, tulisanku di blog ini tidak akan berisi sesuatu yang mengumbar keekstremen hidup seperti yang pernah aku tulis dalam buku harian.

Sekarang aku harus bertanggung jawab dengan tulisan yang aku buat. Karena ketika aku memutuskan untuk menulis sesuatu dan mempublishnya di blog berarti aku telah tahu konsekuensinya, yaitu bahwa semua orang (yang terhubung dengan koneksi internet) memiliki akses untuk membaca tulisan tersebut. Dan hak semua orang pula untuk berkomentar, baik itu kritik, saran, pujian atau makian sekalipun.

Okelah. Sebagai perpisahan, aku ucapkan selamat tinggal pada buku harian. Terima kasih karena telah menjadi bagian dari kehidupanku.

37 komentar:

  1. Mengenaskan sekali nasib buku harianmu, harusnya biarkan dia hidup , biarkan dia jadi saksi hitam putihnya perjalanan hidupmu, mudahan belum benar2 dirobek dan dibuang ke tong sampah ya.., tapi kalau bener2 sudah almarhum ya sudahlah,
    oiya sy tiba2 tertarik utk mengikuti blog-mu, krn sy pendatang baru nih, mau belajar banyak dg mu, maklum sdh mulai menua, klu belajar sendiri agak susah, tp kok ga ada gadget follower di blog ini ya?..thanks ya

    BalasHapus
  2. kenangan indah bersama diary tak pernah terlupakan..
    Kini saatnya menuliskannya dalam bentuk media blog yang lebih mendunia ya Mas..
    dan Selamat..terimakasih telah berkenan berbagi bersama.

    BalasHapus
  3. ya Mas, melalui media blog, semacam catatan haria personal, kita bisa lebih berkreasi dan berbagi, tentunya dengan tata aturan yang saling menghargai bersama.

    SALAM hangat dari Kendari.

    BalasHapus
  4. sekarang buku diary ditinggal dan blog sebagai penggantinya. :)
    nice share mas:)

    BalasHapus
  5. dulu wkt smp juga ada buku harian tapi lama2 malas malah dirobek buku hariannya hehee..takut ada yg nyolong baca.

    BalasHapus
  6. Sungguh mengenaskan!!!
    Tragis betul kisah buku harian tu,,
    Tapi,
    Aku masih menyimpan buku harianku mas, meskipun banyak kisah gelap kenakalanku yang sangat memalukan di sana. Aku yakin suatu saat akan jadi kenangan buat ku, kenangan yang tak kan pernah terlupakan,,

    BalasHapus
  7. Buku harian....
    Merupakan perjalanan hidup dari seseorang.....
    Menjadi saksi bisu dalam setiap kehingan....
    Tempat curahan tanpa proses pembantahan ....,
    Namun kini telah menjadi cerita.

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil; maka, kita dapat mengatasi permasalahan yang besar.

    Sukses selalu

    Salam ~~~ "Ejawantah's Blog"

    BalasHapus
  8. ane gak pernah punya buku harian hehe, tapi emang blog punya multifungsi bro, sukses selalu :)

    BalasHapus
  9. iyo mas...mau tak mau ada saatnya kita berpisah dengan Diary. akupun begitu. Media Blog sepertinya bisa menjadi penyaluran "bakat" untuk curhat....sip...siiipp....

    BalasHapus
  10. blog memang sudah menjadi pengganti diary bro, happy blogging always :)

    BalasHapus
  11. simpan buat kenang-kenangan

    BalasHapus
  12. buat kenang-kenangan aja gan

    BalasHapus
  13. biasanya sih saya menulis masalah di blog kalo udah selesai masalahnya. kalo belom selese biasanya saya malah nanya ke temen dunia maya mengenai solusi yang harus saya ambil. jadi, tergantung kita aja gimana mau mengemas tulisan itu. yang pasti mau nulis apapun kita harus ati-ati dengan tulisan yang kita buat. selamat menulis teman. :)

    BalasHapus
  14. sama dong, buku harian juga telah lenyap dari hidupku dan kini blog penggantinya. lebih asyik.

    BalasHapus
  15. aku malah enggak pernah ngerasain nulis dibuku harian hahaha

    BalasHapus
  16. Dulu, sebenarnya saya tertarik untuk menulis di buku harian. Entah mengapa rasanya kurang sreg di ati. Namun ketika bertemu dengan blog kok rasanya pas dan mengena, jadi saya putuskan untuk menulis di sini.

    BalasHapus
  17. salam sahabat aja sob...buku harian sebenarnya memang tempat yang tepat untuk luahan hati

    BalasHapus
  18. buat aja buku harian online di blog
    terus kunci hanya bisa dibuka oleh pemilik blog,
    set agar tidak bisa di cari oleh mesin pencari

    BalasHapus
  19. Aku juga dulu suka nulis buku harian dan langsung ditinggalkan semenjak ketemu bloggie.. hehe.. =D

    BalasHapus
  20. Wah ane sih ngga pernah punya buku harian =3

    BalasHapus
  21. di[indahkan
    ke blog saja buku hariannya
    hehe :D

    BalasHapus
  22. nulis buku haran cuma tugas b.ind doang :D
    abis ntue q buang :D

    BalasHapus
  23. dunia semakin maju, tradisipun ikut berubah. Ambil yang baik tinggalkan yang kruh

    BalasHapus
  24. buku harian sekarang sudah digantikan oleh blog atau untuk hal yg ringan2 digantikan fb dan twitter

    BalasHapus
  25. Sekarang jamannya diary digital yaitu blog

    BalasHapus
  26. kunjungan balik...

    hehehe...kok dirobek bro ?...sayang atuh, mending dibikinin etalase dibuat pajangan...^_^

    BalasHapus
  27. hm..kadang aku masih nulis di buku kok..:)

    BalasHapus
  28. inyong dulu juga pernah nulis dibuku harian, tapi cuma bentar

    BalasHapus
  29. jangankan km sob, aku jg sama kok... hanya saja, aku menulis semua kisah hidupku itu dlm bentuk puisi2, atau cerpen2, atau jg lagu.
    tp skrg sih, semua udh aku tutup sempurna, hanya 1 2 saja yg aku buang aku bakar. kalo sekiranya hal itu gak pantas utk dikenang.

    aku setuju dgn km, buang saja, nanti justru malah akan membuat hidupmu gak tenang, apalagi jika dibaca oleh org lain.

    intinya dipilih2 aja sob, mana yg di ambil dan mana yg hrs dibuang.
    oke??

    BalasHapus
  30. sekarang tentu saja sudah tidak jamannya curhat di buku harian, sudah ada blog juga facebook...

    BalasHapus
  31. hallo kawand...
    :)
    maaf kalo spam..
    mau nyoba dapet HP gratis? ato mMP3 gratis? ato PS/OX gratis…??
    Coba ini aja deh..ga rugi2 amat…ga ngeluarin duit juga, paling cuma listrik sama internet dikit..lumayan lah..namanya juga usaha..
    SALAM BERKAWAND

    BalasHapus
  32. Hoho udah jamannya curhat di FB biar orang orang pada perhatian :D

    BalasHapus