Senin, 06 Desember 2010

Nunukan Malinau : 2 Kabupaten di Utara Pulau Kalimantan

Setelah sebelumnya Menjelajah Kabupaten Paser, kali ini aku dan kedua temanku berkesempatan untuk mengunjungi 2 kabupaten di utara Pulau Kalimantan, yaitu Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau. Kedua kabupaten ini merupakan daerah baru hasil pemekaran dari kabupaten induk sebelumnya, yaitu Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara jiran Malaysia. Kabupaten Nunukan berbatasan dengan Negara Bagian Sabah, sedangkan Kabupaten Malinau berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak.

Rabu, 28 Juli 2010

Perjalanan dimulai dini hari sekitar pukul 06.00 wita dari Kota Samarinda menuju Bandara Sepinggan, Kota Balikpapan. Rombongan kami terdiri dari 7 orang. Aku dan kedua temanku mendapat tugas monitoring ke Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau. 3 orang lainnya ke Kota Tarakan dan 1 orang ke Kabupaten Bulungan. Dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air, akhirnya kami tiba di Bandara Juwata Tarakan sekitar pukul 11.00 wita. Dari sini, kami berpencar menuju tujuan masing-masing. Aku dan temanku menuju ke Pelabuhan Tengkayu Tarakan dan membeli tiket tujuan ke Kabupaten Nunukan seharga Rp. 170.000,- / orang. Ya, untuk menuju Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau harus ditempuh dengan jalur laut dan sungai menggunakan speedboat. Dan kali ini, speedboat yang bernama Tri Putri Tunggal Dewi tujuan ke Kabupaten Nunukan sebagai persinggahan kami yang pertama dijadwalkan bertolak dari pelabuhan pukul 13.00 wita.

KABUPATEN NUNUKAN

Setelah hampir 2,5 jam terombang-ambing dengan merasakan hentakan speedboat yang berjalan laju menyusuri sungai, akhirnya pada pukul 15.30 wita kami sampai di Pelabuhan Tunon Taka, Kabupaten Nunukan. Pelabuhan ini merupakan tempat yang sering digunakan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk menuju Tawau-Sabah, Malaysia dalam rangka mengadu nasib disana. Tidak heran, di pelabuhan ini terdapat kantor imigrasi yang mengurusi segala hal yang berhubungan dengan keluarnegerian, mulai dari paspor, pos lintas batas, penyelundupan barang, dan lain sebagainya. Oh ya, masyarakat Nunukan yang hendak pergi ke Tawau atau sebaliknya, tidak perlu menggunakan paspor. Cukup menunjukkan semacam kartu pos lintas batas, maka dengan mudah mereka bisa keluar masuk kedua-dua negara tersebut. Dari yang kudengar, hanya dibutuhkan waktu 1 jam dari Kabupaten Nunukan untuk menuju Tawau Malaysia melalui jalur laut. Bahkan hanya perlu 30 menit apabila perjalanan tersebut dimulai dari Sebatik, yang merupakan salah 1 kecamatan di Kabupaten Nunukan. Pantas saja, ketika berada dilaut diantara kedua perbatasan tersebut, aku yang mencoba mendengarkan radio melalui handphone malah banyak mendapatkan chanel-chanel radio Malaysia. Ada yang berbahasa China dan ada juga yang berbahasa Melayu. Tapi anehnya, radio-radio tersebut malah banyak memutarkan lagu-lagu Indonesia.

Pelabuhan Tunon Taka Nunukan
Pagi di Nunukan

Di Nunukan, kami bertiga menginap di Hotel Fortuna yang fasilitasnya lumayan bagus untuk ukuran hotel di sebuah pulau kecil di Nunukan ini. Kabupaten Nunukan hanyalah pulau kecil yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan kehidupan dari jasa perdagangan. Umumnya mereka adalah pendatang dari Sulawesi. Sebagai kabupaten yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia dan menjadi jalur transit TKI, Nunukan menjadi kabupaten yang cukup berkembang meski masih banyak yang harus dibenahi terutama dari segi penyediaan infrastruktur dan listrik. Juga yang menjadi perhatiaan adalah begitu banyaknya barang-barang buatan Malaysia yang membanjiri kabupaten ini mulai dari sembako, sepatu, pakaian sampai tabung gas. Nah, tabung gas ini langsung mencuri perhatianku. Menurut kabar yang kudengar, tabung gas buatan Malaysia kualitasnya lebih bagus jika dibandingkan buatan Indonesia. Makanya, masyarakat disana lebih senang membeli tabung gas 12 kg buatan Malaysia yang berwarna kuning mencolok. Atau mungkin memang sepertinya tidak ada tabung gas buatan Indonesia yang beredar disana. Entahlah.

Kamis, 29 Juli 2010

Perjalanan selanjutnya adalah ke Kabupaten Malinau. Sempat bingung juga untuk menuju kesana karena harus balik dulu ke Kota Tarakan baru kemudian bisa dilanjutkan ke Kabupaten Malinau. Jika ini terjadi berarti kami harus siap-siap merasakan hentakan di dalam speedboat sekitar 5,5 jam, dengan rincian  dari Nunukan-Tarakan : 2,5 jam lalu dilanjutkan Tarakan-Malinau : 3 jam. Tentu ini bakal menguras tenaga. Untunglah kami mendapatkan informasi bahwa ada jalur alternatif yang dapat ditempuh untuk menuju Malinau langsung dari Nunukan tetapi terlebih dahulu harus melalui daerah Sembakung. Tanpa berpikir panjang, kami lalu bergerak cepat menuju Pelabuhan Yamaker Nunukan untuk bisa mendapatkan speedboat yang hanya ada pada waktu-waktu tertentu saja. Pukul 11.30 wita, speedboat meluncur ke wilayah Sembakung. Sepanjang perjalanan, sempat terjadi 2 kali hujan dan hujan ini menjadikan pandangan motoris sedikit terhalang. Syukurlah sang motoris begitu sigap sehingga mampu menghindari batangan-batangan kayu yang lumayan besar. Apalagi arus sungai yang cukup deras pun sempat menyulitkan. Tapi mungkin karena motoris sudah berpengalaman maka hal ini mampu ia atasi dan akhirnya sampai di daerah Pembeliangan-Sembakung pukul 14.00 wita. Di Pembeliangan-Sembakung yang masih menjadi wilayah administrasi Kabupaten Nunukan, kami menunggu cukup lama untuk mendapatkan mobil yang bisa membawa kami ke Kabupaten Malinau. Sambil menunggu, kami sempatkan makan siang di Rumah Makan yang kalau tidak salah ingat bernama RM. Beringin.

Bersama penumpang lain menuju Sembakung

Nah, di daerah Pembeliangan ini, tower dari salah 1 operator seluler terkenal berdiri kokoh sehingga komunikasi dengan dunia luar tidak mengalami hambatan. Hanya saja, listrik masih menjadi kendala utama karena hanya hidup pada malam hari saja. Itupun juga sepertinya disuplai dari perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut. Oh ya, dari RM tersebut kami melihat anak-anak mudanya yang berseragam olahraga mondar-mandir menuju ke sebuah lapangan untuk mengadakan pertandingan bola voli. Katanya sih dalam rangka memperingati 17 Agustusan. Sengaja dilaksanakan lebih awal karena terbentur dengan puasa ramadhan yang sebentar lagi akan segera masuk.

Setelah menunggu 2,5 jam, akhirnya mobil yang akan membawa kami ke Malinau muncul juga. Dan tepat pukul 16.30 wita, kami pun meninggalkan daerah Pembeliangan-Sembakung menuju Kabupaten Malinau. Ternyata jarak tempuhnya tidak terlalu lama. Hanya butuh 1 jam saja, kami pun tiba di Kabupaten Malinau, yaitu pukul 17.30 wita. Tapi kelokannya yang seperti ular, membuatku mabuk dan ingin muntah. Untunglah berhasil aku tahan meski dengan wajah yang pucat.

KABUPATEN MALINAU

Di Kabupaten Malinau, kami menginap di penginapan Cahaya. Penginapan ini fasilitasnya ala kadarnya. Mau tidak mau kami harus menginap disini karena penginapan yang kami tuju sebelumnya ternyata telah terisi penuh. Tapi tidak apalah, yang penting bisa beristirahat barang 1 malam.

Salah 1 ruas jalan di Kabupaten Malinau

Dibandingkan dengan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau masih tidak terlalu ramai. Tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Tapi anehnya, saat itu terjadi kelangkaan bahan bakar bensin. Antrian terlihat di beberapa tempat yang menjadi pangkalan penjualan BBM.

Pagi di Malinau

Di daerah perkotaannya yang berpusat disekitar pasar, banyak dihuni oleh para pendatang maupun penduduk aslinya yaitu suku Melayu Tidung yang beragama Islam. Sedangkan di daerah pinggiran, mayoritas ditempati oleh penduduk asli lainnya, yaitu suku Dayak yang beragama Kristen / Katolik. Bisa dibilang agama Kristen / Katolik adalah agama mayoritas yang dianut masyarakat kabupaten Malinau hampir 75%. Meskipun begitu, toleransi kerukunan umat beragama tetap terjaga dengan penuh harmoni.

Jum’at, 30 Juli 2010

Pukul 11.00 wita, dengan menggunakan speedboat Menara Baru Express Junior bertolaklah kami meninggalkan Kabupaten Malinau menuju kembali ke Kota Tarakan. Selanjutnya, pukul 16.00 wita, pesawat Sriwijaya Air membawa kami terbang dari Tarakan menuju Balikpapan. Dan Alhamdullillah, akhir perjalanan ini ditutup dengan tibanya kami kembali ke kota tercinta, Kota Samarinda pukul 20.30 wita dengan keadaan selamat.

Kembali menuju Kota Tarakan

Sungguh melelahkan perjalanan ini. Tapi dari perjalanan ini pula  aku mendapatkan pengalaman baru yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Bisa dibilang kelelahan ini terbayarkan sudah dengan berbagai hal yang aku saksikan di daerah-daerah tersebut. Satu yang pasti, keindahan alam Kalimantan dengan pesona sungai-sungainya yang eksotis dan hutan-hutannya yang lumayan masih perawan akan selalu menjadi ingatan dalam kehidupanku. Dan tentu, aku beruntung karena telah menjadi salah 1 saksi akan keindahannya tersebut.

video


22 komentar:

  1. Duh... kerja kok jalan2 melulu sih..? ^_^

    BalasHapus
  2. Halooo... baru bisa mampir lagi nih stelah akhirnya terbebas dari pekerjaan kantor. ^_^

    BalasHapus
  3. daerah-daerah ujung Indonesia kadang sering terlupakan.
    terima kasih untuk pemda setempat yg telah mengirim tim monitoring.
    Nunukan Malinau harus maju

    BalasHapus
  4. ternyata dengan bw dapeyt banyak pengetahuaann ya, makasih ya mas, skalian agku ijin follow yaaa..

    BalasHapus
  5. wah jadi kayak pejabat ya berkunjung kedaerah2 hehehe atau jgn2 emang ente dah jadi pejabat nih? hehe

    BalasHapus
  6. menyenangkan sekali rasanya bisa berkeliling mengenal daerah lainnya masih di sekitar tempat tinggal, apalagi kalau bisa ke luar daerah.

    BalasHapus
  7. asyik ya Mas..bisa jalan-jalan keliling daerah..kita tunggu cerita jalan-jalan selanjutnya.

    SALAM hangat dari Kendari. 8)

    BalasHapus
  8. moga kab2 terpencil itu akan lebih maju kedepannya :)

    BalasHapus
  9. nunukan malinau... baru denger nih, hehe

    BalasHapus
  10. salam kenal pak, saya dari semarang aja nih
    happy blogging :D

    BalasHapus
  11. kapan ya saya bisa jalan-jalan ke perbatasan. naik speedboat, mendengar bahasa yang berbeda. kapan-kapan pastinya.

    BalasHapus
  12. waaah ada saka hera ma kang a vip di atas
    met sore sob

    BalasHapus
  13. perbatasan indonesia dgn malaysia, penduduknya damai2 saja

    beda dgn yg tinggal jauh di perbatasan, sedikit2 berantam, emosi... terus ga terima malaysia klaim ini dan itu :D

    BalasHapus
  14. enak ya, yg jln2 mulu bs skalian refreshing...

    BalasHapus
  15. wah jalan-jalan sambil narsis he he....

    BalasHapus
  16. Senangnya bisa jalan jalan, apalagi kedaerah pedalaman kaya gitu yah.
    Salam.. .

    BalasHapus
  17. Asik ya mas Ifan, kalau dinas kerjanya jalan-jalan,, :D
    Selain di hitung kerja juga bisa sekalian refreshing, hemm,, :D

    BalasHapus
  18. saya sedang menulis cerita fiksi tentang malinau, terima kasih sudah berbagi cerita (jadi punya gambaran di sana nih). kapan2 ingin berkunjung ke sana melihat langsung Malinau. salam kenal dari tanah Hulondalo.

    BalasHapus