Kamis, 16 Desember 2010

Sosialisasi Pengarusutamaan Gender

Selama ini aku sering mendengar perkataan kesetaraan gender. Tetapi, kesetaraan gender semacam apakah yang dimaksud, aku juga tidak terlalu paham. Yang aku tahu, bahwa kata gender sendiri secara harfiah bersinonim dengan pengertian jenis kelamin. Selebihnya, penjelasan mengenai hal itu rasanya masih minim. Dan aku yakin, masyarakat luas pun mengalami hal yang sama seperti diriku, buta terhadap hal tersebut.

Untuk itulah, pada tanggal 6 Desember 2010 lalu, di instansi tempat aku bekerja diadakan Sosialisi Pengarusutamaan Gender. Apa itu Pengarusutamaan Gender? Pengarusutamaan Gender atau disingkat PUG adalah strategi yang dilakukan secara rasional dan sistimatis untuk mencapai dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam sejumlah aspek kehidupan manusia (rumah tangga, masyarakat dan negara), melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

Tujuan dari Sosialisasi PUG ini adalah memberikan pengetahuan yang memadai mengenai arti pentingnya penerapan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam segenap bidang kehidupan. Diharapkan dengan adanya kesetaraan gender ini maka tidak ada lagi bentuk diskriminasi dan marginalisasi terhadap perempuan dimasyarakat kita.

Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa perempuan di negeri ini sering dihadapkan pada aturan sosial dan budaya masyarakat setempat yang lebih mengutamakan laki-laki. Padahal bisa jadi dari segi kemampuan dan keterampilan, perempuan mungkin mampu mengungguli laki-laki. Tapi ya itu tadi, aturan sosial dan budaya tersebut telah bertahun-tahun tertanam kuat dan menjadikan gerak langkah perempuan untuk maju menjadi terhambat.

Ambil contoh pada suatu keluarga miskin di daerah pedesaan yang memiliki anak laki dan perempuan. Kedua-duanya berkeinginan kuat untuk terus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, karena terbentur keadaan ekonomi dan hanya mampu menyekolahkan 1 anak saja, maka diambillah keputusan untuk menyekolahkan anak lelaki dengan asumsi bahwa anak laki-laki adalah tulang punggung keluarga yang nantinya diharapkan mampu memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Orang tua dari kedua anak tersebut mungkin berpikir bahwa pendidikan memang penting, tetapi ada yang keliru dari pemikirannya tersebut, yaitu mengalahkan keinginan anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi hanya karena dianggap bahwa yang mampu menopang ekonomi keluarga itu adalah anak laki-laki. Itu hanya salah 1 contoh. Masih banyak lagi hal-hal diluar sana yang memperlihatkan bentuk ketidakadilan gender. Sungguh menyedihkan dan perlu ada agen-agen perubahan untuk mendobraknya.

Tentu saja kesetaraan gender ini tidak dimaksudkan untuk menjadikan perempuan lantas dapat bertindak dengan semau-maunya. Kesetaraan gender ini hanyalah merupakan solusi untuk mengakomodir keinginan perempuan yang ingin diperlakukan adil sehingga mampu berkembang dengan kualitas diri yang layak tanpa melupakan kodrat yang sesungguhnya.

Nah, itulah sebagian yang dapat kusimpulkan dari acara sosialisasi PUG tersebut. Tentu masih banyak yang harus aku pelajari untuk lebih memahaminya. Satu hal yang menurutku patut direnungkan yaitu kutipan dari narasumber yang berasal dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, sebagai berikut : LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MEMANG BEDA, TAPI BUKAN UNTUK DIBEDA-BEDAKAN.

19 komentar:

  1. wah wah, saya setuju dengan kesetaraan gender dalam pergaulan. tapi walau disetarakan bagaimanapun juga, ada kelebihan dan kekurangan dari setiap gender. jadi tetep ga bisa disamakan, apalagi kalau menyangkut masalah sosioculture.

    anyway, keadilan ga pernah mandang gender lho. :)

    BalasHapus
  2. gak beda jauh teman papaku. dia lebih mau menyekolahkan anak cowoknya tinggi2. karena dia pikir, kalo cewek masuknya ke dapur juga

    BalasHapus
  3. Sekarang jaman udah berubah, Laki-laki atau perempuan sama saja!

    Kalau dulu laki-laki gak boleh masak! masak pekerjaan perempuan.. Tapi lihat aja sekarang, Koki-koki di restauran dan hotel ternama rata-rata berkumis, alias laki-laki,, :D

    Ohya, wordpressnya di tinggalkan ya mas??

    BalasHapus
  4. Salam kenal Mas Ifan. Thanks yah dah mampir ke blog keluargazulfadhli :-)

    Kalo ngomongin kesetaraan gender emang ga akan ada habisnya. Jangankan ngomongin orang, lah wong pas saya mo lanjutin S2, ngobrol2 sama Bapak mertua mengenai hal ini, eh mertua saya bilang kalo ibu rumah tangga konsen ajah ngurus anak & suami (keluarga). Beliau bilang kecuali kalo gw udah kerja lagi baru deh lanjutin S2 nya. Padahal kan sekolah bagi gw untuk 'kepuasan batin' alias meng-upgrade ilmu yang dimiliki.

    Okeh deh, sekian dulu yah Mas komennya. Tar kalo kepanjangan jadi cerpen pula hehehe

    Salam buat Uncle Ifan dari Zahia

    BalasHapus
  5. Pagi maz
    soal gender, aku jadi teringat dengan ibu kita Kartini yang memperjuangkan persamaan hak antara pria dan wanita.

    Kesejajaran pria dan wanita untuk memperoleh pendidikan harus tetap dilanjutkan sampai kapanpun.
    Karena pria dan wanita adalah sama-sama makhluk Tuhan yang sejajar.

    Aku kira akan ada suatu perbedaan jika laki-laki dan wanita telah menjalin pernikahan.
    Hak dan kewajiban tentulah ada perbedaan.
    Aturan untuk itu telah diatur dalam peraturan agama dan pemerintah.

    Sukses selalu maz dan semoga limpahan rahmat tercurah untukmu.
    Selamat pagi dan selamat beraktifitas.

    BalasHapus
  6. jujur aja aku termasuk yg kurang "sreg" dgn wacana kesetaraan gender yg notabene berasal dari barat ini, karena bagaimanapun wanita dan pria tidak sama, bukan masalah membeda-bedakan atau tidak menghargai kemampuan wanita tapi lebih ke "porsi" dan kodrat yang sudah diatur oleh Tuhan :)

    BalasHapus
  7. hidup ini semua memang py hak yg sama dalam meraih apapun yg diinginkannya, tapi ada batasan2 yang membedakan antara wanita dan pria sesuai dgn kodrat masing2. Masalah anak perempuan jgn sekolah tinggi2 itu pengaruh dari tradisi dan itu memang harus dirubah :)

    BalasHapus
  8. omong kesetaraan mestinya dilakukan oleh kaum pria, karena kaum pria lah sesungguhnya yang ditindas oleh kaum perempuan sekarang. hihihi

    BalasHapus
  9. haha, bnr jg tuh apa yg dikatakan sama sobat Muhammad A Vip...
    :D
    kyknya skrg ini yg lbh dominan itu kaum perempuan deh...

    BalasHapus
  10. salam sahabat
    berkunjung silaturrahmi

    BalasHapus
  11. Saya ulas anda Mas, jangan marah ya.

    BalasHapus
  12. walau bagaimana pun tetap ada perbedaan
    kalo disama-samakan
    ntar semua hal mau disamakan terus akhirnya mereka ngelunjak

    BalasHapus
  13. wah saya setuju banget dengan kata "LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MEMANG BEDA, TAPI BUKAN UNTUK DIBEDA-BEDAKAN"......karena sebenarnya laki-laki dan perempuan itu sama, dan kebanyakan orang menganggap laki2 adalah kaum yang lebih kuat, dan wanita adalah kaum yang lemah,,,,,coba kita ingat saat ibu kita melahirkan,dan itu di butuhkan sebuah kekuatan yang tidak di miliki seorang laki-laki...jadi meskipun saya dari kaum adam...tapi tetep mengusung kesetaraan gender...

    BalasHapus
  14. sekarang memang posisi wanita tidak sekedar di dapur dan sumur saja tetapi sudah sejajar dengan laki-laki ...

    BalasHapus
  15. aku baru denger istilah ini-> Pengarusutamaan
    hihi

    BalasHapus
  16. gender setara... oke saja sepanjang tdk melampui batas... krn sesungguhnya lelaki-wanita saling membutuhkan dan saling melengkapi kekurangan masing2

    BalasHapus
  17. ayo semangaaaat
    akhir tahun banyak kerjaan neh

    BalasHapus
  18. Beberapa tahun yg lalu aku juga pernah ikut sosialisasi tentang Pengarusutaman gender ini. Tapi penerapannya di lapangan terkendala banyak hal...

    BalasHapus
  19. Untuk beberapa hal... memang persamaan gender perlu diterapkan, tapi ada hal2 lain yg tetap tidak dapat memberlakukan hal itu.

    BalasHapus