Sabtu, 22 Januari 2011

Sesuai Aturan

Seperti biasa, berkas-berkas pekerjaan yang telah didisposisi oleh atasan akan dikembalikan kembali kepada pengelolanya masing-masing. Nah, kemarin aku mendapatkan 3 berkas pekerjaan yang harus secepatnya diselesaikan. Pada lembar disposisi dari berkas pekerjaan tersebut tertulis : teliti, tetapkan sesuai aturan, dan tindaklanjuti. Aku merasa heran kenapa sampai ada kalimat tetapkan sesuai aturan, padahal selama ini biasanya yang ada hanyalah kata teliti dan tindaklanjuti. Diam-diam aku melihat lembar disposisi dari berkas pekerjaan temanku yang lain. Isinya ternyata hanya teliti dan tindaklanjuti. Lalu ada apa gerangan? Kenapa aku saja yang mendapatkan kalimat "tetapkan sesuai aturan" sementara temanku yang lain tidak.

Lama aku termenung. Dalam ketermenunganku itu aku menyimpulkan bahwa aku sedang bermasalah dengan atasanku. Bisa jadi ia kesal karena dalam beberapa hal aku melakukan tindakan yang menurutnya mungkin tidak baik. Ya, aku kadang bermuka masam ketika ia memerintahkan sesuatu.  Bisa jadi ia dapat membaca dari gerak tubuhku yang seakan melakukan pembatahan meski tidak secara terang-terangan.

Sebenarnya tidak ada niatanku untuk bermuka masam kepadanya. Bermuka masam ini akhirnya terpancar dari wajahku karena ada kekesalan yang rasanya tidak dapat kusembunyikan lagi. Ceritanya adalah ia sering memerintahkan sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi tupoksi pekerjaanku tetapi menjadi tanggung jawab temanku yang lain, sebut saja namanya si F. Si Bapak F ini sering datang terlambat. Sementara pekerjaan si Bapak F tersebut harus segera diselesaikan. Lalu, karena mungkin usiaku yang paling muda diantara yang lain, maka ia sering menyuruhku untuk mengerjakan tugas si Bapak F tersebut. Ia sepertinya segan menyuruh yang lain karena mungkin ia merasa tidak enak hati dengan stafnya yang lain yang usianya jauh lebih tua atau sepantaran dengannya. Bisa jadi pula ia segan karena ia baru sekitar 7 bulan menjabat sebagai atasan di bagianku tersebut.

Mulanya aku tidak keberatan dan senang hati mengerjakan tugas itu. Namun lama-kelamaan kok makin memberatkan ya. Kalau sekali-kali membantu mengerjakan tugas teman mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau terus berulang, rasanya tidak tahan juga. Apalagi aku juga harus menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugas utama dari tupoksi pekerjaanku sendiri. Alhasil, aku jadi ogah-ogahan kalau atasan menyuruhku. Habis mau bagaimana? Aku terlanjur kesal. Mungkin kalau pekerjaan tersebut mengharuskan untuk segera diselesaikan, aku akan oke-oke saja mengerjakannya. Tapi ini juga pekerjaan yang tidak membutuhkan penyelesaian yang cepat, tetap juga diserahkannya ke aku. Harusnya pekerjaan yang tidak membutuhkan penyelesaian yang cepat tersebut diletakkan saja di meja si Bapak F.

Si atasan juga tidak menegur si Bapak F yang sering datang terlambat. Entah kenapa, padahal sebagai pelopor utama dibagian kepegawaian, harusnya dapat menegakkan aturan-aturan disiplin yang berlaku. Aku heran dengan semua ini dan pastinya amat menyayangkan kenapa bisa sampai terjadi. Aku juga menyayangkan sikap si Bapak F tersebut. Omongannya kadang sering menyakitkan. Bukannya berterima kasih karena telah dibantu menyelesaikan pekerjaannya. Eh, ia kadang malah menyalahkan kita apabila pekerjaan tersebut terdapat kesalahan. Harusnya kalau memang terdapat kesalahan, ia memberitahunya dengan cara yang baik dan memperbaikinya sendiri. Ini tidak. Ia malah mempersalahkan kita dan menyuruh memperbaiki kesalahan tersebut.  Kesal nggak sih?

Kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan tersebut kadang melemahkan semangat kerjaku. Tetapi aku berusaha meyakinkan diriku untuk tidak patah arang dan lebih berkonsentrasi dengan pekerjaan yang menjadi tupoksi utamaku. Aku sadar, dengan perlakuan apapun, aku harus sabar dan terus berusaha mengerjakan sesuatu secara maksimal. Aku juga harus tetap ingat bahwa pekerjaan-pekerjaan itu bukan hanya demi kepentinganku sendiri. Ada orang-orang lain yang  mengharapkan agar berkas-berkas mereka terselesaikan dengan baik dan lancar. Dan aku percaya bahwa jauh sebelum ia menjabat sebagai atasan baru, aku telah mengerjakan itu sesuai dengan aturan. Jika tidak sesuai aturan, mana mungkin dokumen yang jumlahnya sekarang ratusan bisa berhasil diproses di BKN Regional atau pusat. Aku hanya perlu mengatakan pada diriku sendiri bahwa apa yang ditulis atasan dilembar disposisi itu adalah salah.

22 komentar:

  1. disetiap gawean pasti ada kondisi spt itu bro, yah dijalani aja walau memang sulit menghadapi rekan kerja yg lebih senior dan lebih tua hehehe

    BalasHapus
  2. Pagi maz
    walah kalo menurut sampeyan, atasan salah ya langsung saja diberitahu biar hati menjadi tenang dan tidak melamun lagi.

    BalasHapus
  3. Yang penting sesuai prosedur saja Mas...tetap SEMANGAT ya..apapun terjadi jadikan tahap belajar untuk berkerja lebih baik lagi...

    SALAM hangat dari Kendari.

    BalasHapus
  4. Dunia kerja memang tak selamanya menyenangkan.. Anggap saja kejadian di atas sebagai pembelajaran bagimu, shg kelak saat tiba waktunya kau berada di posisi pemimpin maka kau tidak bersikap spt Bpk F itu. Kehadirannya kini malah 'menguntungkan'mu karena kau bisa belajar banyak darinya bahwa hal2 spt yg dilakukannya itu memberatkan bawahannya. Benar kan..? Semangat...!

    BalasHapus
  5. begitulah kerja. ada saja orang2 yg suka seenaknya. sing sabar aja ya.

    BalasHapus
  6. Kerja di kepegawaian itu memang 'berat' karena harus memberikan contoh yg baik khususnya dalam hal kedisiplinan.

    BalasHapus
  7. Shasa suka gambar di atas itu.... hehehe

    BalasHapus
  8. moga tetap semangat kerjanya yach!
    suatu saat pasti dapat hasilnya :D

    salam ngeblog dari bandung :-)

    BalasHapus
  9. ya, keputusan tepat dengan menganggap itu salah. jangan salahkan diri sendiri kalau yakin diri tidak bersalah. semangat!

    BalasHapus
  10. tetap semangat...memberikan yang terbaik...:D

    BalasHapus
  11. yah, begitulah suka dukanya di dunia kerja, kalau tidak ada seperti itu malah akan terasa datar-datar saja ...

    BalasHapus
  12. itulah dinamika pekerjaan
    semoga tidak putus asa
    selalu semangat
    give the best shot

    BalasHapus
  13. jangan nyerah ya..nikmtai aja kerjaan kamu..:3

    BalasHapus
  14. sabar bro, setiap profesi ada cobaannya, ga bisa enak terus, kalo ada konflik itu udah biasa.. (sedikit sok tua)hehhe.

    Maen2 ke blog butut saya.
    Chalief

    BalasHapus
  15. Memang selalu begitulah kalau bekerja bersama orang lain. Selalu ada yang sirik, ada yang semena-mena, ada yang merasa berkuasa, ada yang mau menang sendiri, dll,
    Dan kita sebagai orang biasa selalu menjadi pihak yang mengalah,, Gak adil memang!!

    Yang semangat mas! Do'akan aja orang seperti itu dapat balasan yang setimpal!! :D

    BalasHapus
  16. emang.. kerja nggak pakai aturan bisa mendepok kita ke alntai. jhehe...

    BalasHapus
  17. di dunia kerja banyak sekali cobaan mendera mas,,kita harus kuat menghadapinya,,semoga tetap semangat,,,,^^

    BalasHapus
  18. yg sabar sob...
    lakukan apa yg musti km lakukan. itu saja.

    BalasHapus
  19. emang sih, bkn hanya didunia kerja aja kok yg byk masalah. bukankah didunia yg lbh kecil lg yaitu keluarga jg terkadang menemui masalah. tergantung kita saja gimana menyikapinya.

    yg jls semua aturan itu pasti bertujuan baik.

    BalasHapus
  20. heheh... kessel ya mas... yah.. begitulah negeri kita ini mas... "senioritas" bukan "kreatifitas"

    BalasHapus
  21. Yaa mengalah saja untuk bapak F itu siapa tau posisi anda akan berada jauh di atas bapak F itu kelak

    BalasHapus