Rabu, 15 Juni 2011

Dampak Dari Sebuah Ucapan

Pernah tidak pada suatu waktu kalian tanpa sengaja mengucapkan sesuatu dan ternyata ucapan itu berubah menjadi hal yang benar-benar nyata dalam kehidupan? Syukur jika sesuatu yang terucap dari mulut kita tersebut adalah hal baik yang yang pada akhirnya berbuah pada hal baik juga. Tapi tidak menutup kemungkinan, tanpa disadari kita pun pernah pada satu waktu terjebak mengucapkan kata-kata buruk yang malah menyerang diri sendiri. Jujur, aku sering mengalami hal tersebut. Disadari atau tidak, kejadian semacam itu berdampak luas pada psikologiku. Aku menjadi berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu hal. Sebisa mungkin menghindari perkataan-perkataan yang menjurus pada ketakaburan. 

Biasanya sesuatu hal buruk yang menimpa kita sering menjadikan kita bertanya pada diri sendiri tentang perihal apa yang telah kita lakukan sehingga harus mendapatkan ketidaknyamanan ini. Tetapi jika hal baik yang kita perolehi, maka lazimnya kita sering melupakannya. Begitupun dengan perkataan. Aku sering menghubungkan kejadian yang menimpaku dengan perkataan yang pernah kuucapkan. Entah itu perkataan yang positif atau negatif sekalipun. Bisa jadi ini mungkin hanya perasaanku saja. Yang pasti, suara hatiku turut membenarkan hal ini. Bukankah suara hati adalah sesuatu yang tidak akan pernah membohongi kita? Ia akan berkata jujur apa adanya meski diri kita sendiri bersikeras untuk menyangkalnya.

Ucapan-ucapan yang pernah keluar dari mulutku dan menjadi kenyataan itu antara lain sebagai berikut :
  • Suatu waktu aku pernah berkata kepada adikku bahwa genset yang dibeli bapakku beberapa bulan yang lalu tidak berguna lagi karena aliran listrik sekarang ini tidak pernah padam. Namun beberapa jam kemudian seluruh kota gelap gulita akibat pembangkit listrik rusak terserang petir saat hujan lebat. Alhasil, genset yang dibeli bapakku tersebut menjadi pahlawan dan mengambil alih peran penerangan.
  • Suatu waktu aku pernah menggerutu karena bete akibat semua pekerjaan kantor telah aku selesaikan dan hanya berdiam diri saja karena belum ada lagi pekerjaan lain. Tiba-tiba keesokan harinya, aku disodori sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga, dan itu benar-benar membuatku kalang kabut.
  • Suatu waktu temanku pernah berucap kepadaku, kalau seandainya ia memiliki komputer atau laptop, ia akan giat menulis. Aku yang mendengarnya cuma bisa tersenyum sinis dan bergumam dalam hati bahwa tidak ada keinginan untuk mengikuti jejaknya. Faktanya sekarang ini, setelah memiliki semua fasilitas itu, tekadnya untuk menulis memang ada dengan blog yang telah ia buat. Tapi sayang, hanya 1 atau 2 tulisan yang bisa ia torehkan. Selebihnya ia sangat aktif dalam jejaring sosial twitter. Ketika kutanya mengenai hal itu, ia hanya menjawab bahwa kesibukan kerjalah yang menjadi penghambatnya. Menurutku itu omong kosong sekali. Masa sih ia tidak bisa menyempatkan 1 hari saja dalam seminggu/sebulan untuk menulis 1 artikel. Padahal dari segi kemampuan menulis sudah tidak perlu diragukan lagi. Cerpennya pernah dimuat pada salah 1 harian lokal di kotaku. Menyedihkan dan sungguh disayangkan. Sementara aku yang sedari awal hanya tersenyum sinis mendengar keinginannya, malah menjadi orang yang menggebu-gebu belajar menulis di blog.
  • Suatu waktu aku pernah berucap kepada diri sendiri maupun kepada orang lain bahwa rasanya tidak mungkin aku bisa bekerja pada bidang yang kata orang identik dengan KKN. Kenyataannya, hampir 4 tahun ini aku telah berada pada bidang tersebut dengan membuktikan bahwa aku lulus menjadi pegawai tanpa harus melewati yang namanya unsur nepotisme atau uang sogokan. Aku telah berusaha dan Tuhan yang membantuku mewujudkannya. Ini juga membuktikan tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan meski manusia itu berada pada titik puncak kepesimisan.
  • Suatu waktu aku pernah mengucapkan kepada adik-adikku bahwa aku tidak punya uang. Padahal sebenarnya ada. Ini kulakukan karena kesal dengan kelakuan mereka yang sering meminta uang meski sebenarnya sudah sering diberi. Beberapa hari kemudian aku mendapati uangku menjadi berkurang dan hilang entah kemana.
Masih banyak hal-hal lain yang sering aku alami sebagai implikasi dari ucapan yang aku lontarkan. Percaya atau tidak, tetapi itulah yang terjadi pada diriku. Dari kejadian-kejadian itu aku bisa mengambil beberapa hikmah :
  • Jangan takabur jika mengucapkan sesuatu.
  • Jangan pesimis terhadap sesuatu hal yang tidak mungkin dicapai. Tuhan punya kuasa yang mampu mengubah sesuatu yang tampaknya mustahil bagi manusia.
  • Jangan suka melakukan kebohongan karena bisa berakibat fatal bagi diri sendiri.

31 komentar:

  1. jaga ucapan sangat baik ke lingkungan apalagi ke diri pribadi
    ucapan yang baik banyak disukai ketimbang sebaliknya.
    tapi aku belum pernah berucap kata terus jadi kenyataan, selama ini masih jadi mimpi saja
    entah kapan bisa terkabulkan

    BalasHapus
  2. yah kita harus bisa menjaga ucapan kita
    karena ucapan seperti anak panah yang lepas dai busurnya. Dia tidak akan kembali lagi

    BalasHapus
  3. terima kasih sudah diingatkan

    BalasHapus
  4. Setuju sekali dengan kesimpulannya untuk tidak bohong dan tidak pesimis. Dan mencegah agar tidak takabur, maka ucapkan Insya Allah pada segala hal menyangkut masa depan dan belum terjadi, dan ucapkan Alhamdulillah ketika mengatakan sesuatu nikmat atau kebaikan yang sedang ada pada diri kita

    BalasHapus
  5. ada yang bilang kata-kata jelek yang kita lontarkan pada orang lain akan kembali ke kita. dan rasanya itu benar.

    BalasHapus
  6. setuju karena mulut kita ini berkuasa lho. kita katakan negtif maka akan terjadilah yg negatif.

    BalasHapus
  7. harus hati-hatilah pokonya jika berucap

    BalasHapus
  8. lidahmu harimaumu
    begitu ya kira2
    semoga kita semua dapat menjaga mulut dan lidah kita

    BalasHapus
  9. benar kata orang: mulutmu adalah harimaumu, jadi sepertinya apa yang kita ucapkan harus hal-hal yang positif ya

    BalasHapus
  10. seorang ibu di jawa timur jujur dan kena dampaknya, diusir dari kampungnya.

    BalasHapus
  11. Betul 3x hati** dengan ucapan kita. Dan berusaha jujur berkata apa adanya hehehe.
    Memang kejujuran itu pahit pertama. tapi akan manis setelahnya..karena kebenaran itu pasti ada
    Memang berbohong manis di awal..but..in center and final..(tengah dan akhir)..PAHIT!!
    So, kesimpulan, lebih baik jujur daripada bohong.
    Sekian.
    @nabils29

    BalasHapus
  12. mulutmu adalah harimaumu. jadi berhati hatilah :)

    BalasHapus
  13. yah memang kita harus selalu hati2 dengan ucapan

    BalasHapus
  14. didalam agama pun kita sudah dianjurkan tuk selalu berucap yang baik ya

    BalasHapus
  15. memang kita sebagai manusia harus berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu.
    ada pepatahu bilang "Mulutmu Harimaumu" juga ada ucapan adalah doa :D

    BalasHapus
  16. salah ucap..tak pelak aku sendiri pernah beberapa kali kena getahnya..

    BalasHapus
  17. yg baru2 ini terjadi :
    jujur mengungkapkan sebuah kesalahan mencontek ketika ujian
    eeeeh... malah diusir dari kampung
    tapi sekarang masalahnya udah terselesaikan

    BalasHapus
  18. nanya kerjaan saya ya? saya melakukan banyak hal selama ini, pokoknya kalo mau nikah nanti dan butuh undangan atau sepanduk bisa pesen sama saya.

    BalasHapus
  19. met siang kalimantan....
    ayo semangat

    BalasHapus
  20. Ucapan bagaikan pedang bermata dua klo kita tidak bisa menjaganya makan akan melukai pemiliknya.

    BalasHapus
  21. met pagi kalimantan
    met berhari jum'at
    ayo semangaaaat

    BalasHapus
  22. iya makanya janganmentang-mentang jadi bos terus kalau berkata itu sembarangan ngaco./..kaya orang gila...jadi jangan ngomong yang ga baik yah makasih artikel nya sangat bagus ....

    BalasHapus
  23. aku senang dengan tulisan ini sangat mencerahkan ...moga banyak lagi blogger seperti ini kontennya

    BalasHapus
  24. ucapan yang tidak baik sakit ati dengernya ...mendingan kalo ngucap tu yang baik2, thanks artikelnya sgt keren

    BalasHapus
  25. KEPERCAYAAN itu seperti KEPERAWANAN, jangan berikan kepada sembarang orang. Sekali kita kehilangan, dia tidak bakal balik lagi. Hati-hati memberikan kepercayaan kepada orang lain

    BalasHapus
  26. Tidak mengapa menjadi tua, asal tetap muda dalam semangat.

    BalasHapus
  27. ""Kadang lebih baik diam daripada menceritakan masalahmu, karena kamu tahu sebagian orang hanya penasaran, bukan karena mereka peduli.""

    BalasHapus
  28. sehat selalu ""Daripada Mengeluh Mawar bertangkai penuh duri, Lebih baik bergembira bahwa tangkai berduri itu berbunga mawar"

    BalasHapus