Sabtu, 01 Oktober 2011

Penyapu Jalanan

Saat melintas disebuah ruas jalan di Samarinda, mataku tertuju pada seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu dedaunan kering yang berserakan. Tangannya begitu cekatan mengumpulkan daun-daun kering tersebut, lalu meletakkannya di bahu jalan. Cuaca pada saat itu sangat terik. Keringat pun bercucuran dari seluruh tubuhnya. Sesekali diusapnya keringat itu dengan handuk kecil yang ia lilitkan dileher. Tampak jelas rona kelelahan terpancar dari wajahnya. Aku hanya bisa menghela napas menyaksikan kejadian itu. Kejadian yang seakan-akan menohok diriku. Menohok karena betapa selama ini aku begitu nyamannya melenggang menikmati hidup. Sementara diluar sana, si penyapu jalan itu, menjalani yang sebaliknya.

Meski sudah sering melihat aktivitas penyapu jalanan, tapi baru kali ini aku seperti benar-benar diperlihatkan dan digugah kesadaran untuk menyelami kehidupan mereka yang lumayan keras. Kenapa lumayan keras? Karena mereka melaluinya di jalanan dengan berbagai resiko. Mulai dari harus bangun pagi-pagi buta dengan melawan rasa kantuk dan cuaca yang dingin. Masih dipagi buta, mereka juga harus mengambil resiko berhadapan dengan tindak kriminal yang rawan pada jam-jam itu. Lalu disiang hari, berjibaku dengan panas terik matahari yang membakar kulit. Dan yang paling fatal, mereka sering berhadapan dengan resiko kematian karena sewaktu-waktu bisa tertabrak kendaraan roda 2 atau roda 4 dari para pengemudi yang ugal-ugalan.

Aku jadi berfikir, pasti sulit untuk menjalani profesi ini. Profesi mulia tapi penuh dengan resiko. Namun mau bagaimana. Mereka pun sebenarnya (dalam hati yang terdalam pasti) tidak berkeinginan menjadi penyapu jalanan. Keadaanlah yang mengharuskan mereka menjalani semua ini, yaitu pemenuhan akan kebutuhan hidup yang tak dapat ditunda-tunda.

Kalau saja ada acara ‘tukar nasib’ seperti yang pernah kutonton di salah 1 stasiun televisi, aku mungkin bakalan tak sanggup menjalani semua itu. Akan banyak alasan-alasan yang aku kemukakan untuk menolaknya.
“Aduh, bagaimana ini? Aku tidak tahan dengan teriknya matahari”.
“Aduh, bagaimana ini? Aku alergi dengan debu”.
“Aduh, bagaimana ya kalau ada teman atau tetangga yang melihatku sedang menyapu jalanan”.
Dan bagaimana-bagaimana lainnya yang sesungguhnya hanya omong kosong belaka untuk membenarkan alasan penolakanku itu.

Ah…betapa selama ini aku kurang mensyukuri nikmat dan karunia Sang Pencipta. Aku terkadang mengeluh dengan apa yang kudapatkan. Jika diperbandingkan dengan si penyapu jalanan, aku ini tidak ada apa-apanya. Aku tidak perlu bersusah payah menjalani kehidupan seperti mereka. Aku tinggal duduk manis di kantor sambil mengetik beberapa surat. Apabila merasa kepanasan, aku tinggal menyalakan AC. Gaji yang kuterima tiap bulan pun rasanya lebih dari cukup untuk ukuranku. Sementara si penyapu jalan itu, aku tidak yakin gaji mereka diatas 1 juta. Benar-benar sebuah ironi. Ironi yang kadang membuatku merasa malu dan patut untuk bercermin. Bercermin agar hari ini, esok dan seterusnya aku bisa menjadi sosok yang pandai mensyukuri segala nikmat dan karunia dari Sang Pencipta.

25 komentar:

  1. bener Fan.. malu rasanya jika harus mengeluh di kala hidup kita jauh lebih nyaman dibanding mereka ..
    TFS, nice posting

    BalasHapus
  2. Sebenarnya banyak yang pekerjaannya hampir sama seperti penyapu jalan inim misalnya saja pengangkut sampah, pemeriksa rel kereta api, penjaga pintu keret. Kehidupan mereka sarat dengan kerja keras, tanpa kenal lelah namun tetap memiliki semangat yang tinggi. Semangat mereka perlu kita contoh bahwa bekerja harus dengan sungguh2 karena hasil pekerjaannya juga dapat dinikmati orang lain.

    BalasHapus
  3. kita harus ikut memelihara kebersihan.mereka telah bekerja keras demi menghidupi keluarganya

    BalasHapus
  4. Pekerjaan penyapu jalan adalah salah satu fenomena kehidupan diperkotaan,dalam mencari rezeki untuk menjalani hidup diperlukan suatu keberuntungan ( tentu tdk lepas dari taksdir Allah Swt ), bagi yg beruntung mendapatkan rezeki dgn mudah tentu syukurnyapun harus banyak, namun ada pula yg mendapatkan rezeki dgn bersusah payah seperti tukang sapu jalanan ini, tentu harus banyak bersabar dan berikhtiar agar nasib bisa berubah. Namun yg perlu diingat kebahagiaan itu letaknya ada pada hati seseorang tanpa melihat apa pekerjaannya, bisa jadi penyapu jalanan itu lebih merasa bahagia dibanding dgn orang2 yang memeliki pekerjaan dgn penghasilan yang berlipat-lipat , karena setiap insan sdh memiliki standar kehidupan yg digariskan oleh Allah Swt, kalau melebihi garis itu bisa jadi justru menjadi orang yg kufur nikmat.....ok Ivan tulisanmu bagus, terus menulis ya...

    BalasHapus
  5. sebenarnya...
    merekalah pahlawan lingkungan
    mereka bekerja untuk kebersihan lingkungan dengan gaji rendah

    BalasHapus
  6. ya semua pekerjaan pasti ada resikonya.makanya kita harus hargai mereka juga.

    BalasHapus
  7. Syukurlah jika kita masih dapat mengambil pelajaran dan hikmah kehidupan dari orang lain. Semua itu bisa menjadikan kita sebagai orang yg pandai mensyukuri nikmat.
    Hidup sebagai penyapu jalan memang berat. Aku punya teman yg dulunya berprofesi sbg penyapu jalan. Banyak suka duka yang dijalaninya sbg penyapu jalan. Alhamdulillah, kini dia sudah bisa meninggalkan pekerjaan itu dan mendapatkan pekerjaan lain yg jauh lebih mapan.

    BalasHapus
  8. itulah sob, terkadang org itu selalu memandang ke atas aja.. tetangganya punya motor, ingin beli motor, tetangganya punya mobil, msh kurang pgn beli mobil.dan seterusnya, itulah kalo kita gak prnah bersyukur.
    padahal liatlah mereka, si penyapu jalanan itu. mereka tak pernah mengeluh.
    jd bagi kita yg punya pekerjaan lbh baik dari mereka, alias gak kepanasan, itu saja patut kita syukuri.

    BalasHapus
  9. alhamdullillah nasib kita lebih baik mereka.love,peace and gaul.

    BalasHapus
  10. gaji mereka di jakarta 17 ribu sehari, kalau mau kerja sampai malam dapat dua kali lipatnya. itu yang saya dengar dari teman yang ditawari kerja jadi tukang sapu beberapa waktu lalu, saya berpikir pasti uang segitu sudah dipotong oleh bajingan2 yang diatas. maka wajar mereka kerja terkesan malas-malasan.

    BalasHapus
  11. salam kenal oom ifan
    para penyapu jalan adalah pahlawan kebersihan

    BalasHapus
  12. intinya bersyukur ya, apapun yang diberi itu yang terbaik, insyaallah. :)

    BalasHapus
  13. tulisannya bisa dilombakan lho. kan ada giveaway tuh dari mbak Tarrykitty

    BalasHapus
  14. bersyukur emang gak mudah.. :)
    tapi bukan berarti gak bisa.. :))

    BalasHapus
  15. masih nyapu jalanan?
    ngikut komen Muhammad A Vip di atas
    hehehehe...

    BalasHapus
  16. mohon dukungan para blogger
    http://www.anazkia.com/2011/10/blogger-hibah-sejuta-buku-fase-kedua.html

    BalasHapus
  17. hal yg kecil itu akan mulia contoh seperti mereka yg sering di lupakan jasa nya

    BalasHapus
  18. syukur memang penting :)..
    tapi susah juga ya..

    BalasHapus
  19. semoga kita semua dapat menghargai hasil kerja mereka

    BalasHapus
  20. Yah...seperti itulah hidup, semua ada tempatnya sendiri-sendiri, bahkan penyapu jalananpun akan merana bila tukar nasib menjadi seorang direktur Bank ternama...semua berpulang pada keAdilan Allah.

    BalasHapus
  21. untuk itu mari kita syukuri apa yg ada pada dirikita.

    BalasHapus
  22. sangat salut dgn seorang penyapu jalan..

    BalasHapus
  23. udah lama gak diupdate pak.. ?
    :)

    BalasHapus
  24. masih dari dunia lampau rupanya

    BalasHapus