Jumat, 01 Juni 2012

Rumah Sewaan Pertama

 
Sejak menikah, tepatnya 4 Pebruari 2012, mau tidak mau aku harus mulai berpikir untuk mencari tempat tinggal sendiri yang terpisah dari orangtua. Hal ini dilakukan karena rumah orangtuaku yang tidak terlalu besar sehingga dikhawatirkan akan merepotkan mereka karena ruangan/space yang seharusnya diperuntukkan untuk adik-adikku terpakai untuk aku dan isteriku. Disamping itu, orangtuaku juga mendorongku untuk bisa hidup mandiri karena selama ini aku sangat tergantung dengan mereka. Ini memang fakta yang tidak terbantahkan dan menjadi sesuatu yang telah melekat pada diriku yang apa-apa selalu dibantu keluarga. Meskipun berat, aku menuruti juga alasan mereka demi kemandirian tersebut.




Mulanya aku berpikir tidak akan terlalu sulit untuk mencari tempat tinggal semacam bangsalan/rumah sewaan. Tapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Aku harus survei kesana-kemari mendapatkan tempat tinggal yang diidamkan tersebut. Tentu saja orang-orang terdekat, dalam hal ini adik, kakak, orangtua sampai keluarga yang lain ikut terlibat membantu mencarikannya. Selama masa pencarian tersebut, banyak sekali hambatan yang ditemui. Mulai dari lokasinya yang terlalu jauh dari tempat kerja, harganya yang mahal, sampai kondisi lingkungan yang menurutku tidak sesuai. Misal, suatu kali aku merasa bahwa rumah sewaan ini telah sesuai dengan keinginan hati, namun ternyata sudah terlebih dahulu dipesan oleh orang lain. Atau kadang keluarga berpendapat bahwa rumah sewaan di lokasi A atau B bagus untuk ditempati, tetapi akunya malah tidak sreg. Ini terus berlangsung sehingga menjadi bumerang bagiku sendiri. Orang-orang terdekat yang telah turut membantu mencarikan tempat tinggal tersebut mulai kesal dengan terlalu banyaknya pertimbangan ini itu yang aku ajukan.




Meskipun memendam perasaan yang tidak karuan, akhirnya aku menyerah juga dengan menerima tawaran menempati sebuah rumah sewaan kayu yang direkomendasikan adikku. Awalnya pun aku tidak sreg karena di lokasi tersebut rawan banjir. Tapi karena sudah tidak memiliki pilihan lain yang lebih baik, mau tidak mau aku menerima juga tawaran tersebut. Dan tepatnya pada Hari Sabtu tanggal 11 Maret 2012, aku beserta isteriku resmi menempati rumah sewaan yang bercat warna biru dan putih. Ini berarti, aku hanya menempati rumah orangtua selama 35 hari saja. Rinciannya adalah 4 hari di rumah mertua dari tanggal 5 sd. 8 Pebruari 2012 dan 31 hari di rumah orangtuaku sendiri dari tanggal 9 Pebruari 2012 sd. 10 Maret 2012. Rumah sewaan tersebut beralamat di Jalan Gerilya Gang Masjid Blok C No. 7. Letaknya agak kebelakang. Halamannya pun masih tanah liat sehingga apabila hujan akan becek. Pada waktu memasukkan motor kedalam rumah, sisa-sisa tanah liat yang melekat di ban akan tertinggal di ruang tamu. Jadi, setiap kali memasukkan motor kedalam rumah, setiap kali itu juga aku harus mengepel dan membersihkan ruang tamu yang kotor dengan tanah liat.




Biaya yang harus kukeluarkan untuk sewa rumah ini adalah Rp. 450.000,-/bulan dan harus dibayar sekaligus selama 6 bulan. Biaya ini tidak termasuk listrik dan air. Jadi, aku harus menganggarkan budget tersendiri untuk kedua hal tersebut. Mungkin kalau hitungan kasarnya, aku harus mengeluarkan uang setiap bulan sebesar Rp. 600.000,- untuk semua biaya tersebut. Adapun suplai listrik, alhamdullilah lancar. Tapi kalau untuk suplai air, benar-benar menjengkelkan karena seringnya mati dan biasanya mengalir cuma malam hari saja dengan aliran yang tidak deras.




Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, setiap kali hujan lebat maka akan terjadi banjir besar di depan gang pada blok A. Banjirnya benar-benar dalam sehingga menyulitkanku untuk keluar saat ada keperluan atau saat hendak pergi ke kantor. Akibatnya kadang aku ijin tidak masuk kantor karena khawatir motor yang aku kendarai bisa tenggelam di genangan banjir. Atau paling tidak aku menunggu sampai banjir itu agak surut. Memang tidak menyenangkan, tapi mau bagaimana lagi karena ini adalah sesuatu yang harus dijalani meski diliputi perasaan cemas dan khawatir sekalipun terhadap hal-hal yang tidak aku sukai tersebut. Namun demikian, aku harus tetap bersyukur telah mendapatkan rumah sewaan ini sebagai tempat bernaung sampai aku benar-benar bisa memiliki rumah idaman sendiri menurut kriteriaku.



8 komentar:

  1. namanya juga belajar mandiri..harus lebih repot di awal..

    BalasHapus
  2. Berakit rakit kehulu berenang renang ketepian .., bersakit sakit dahulu kliyengan kemudian .. hehe... selamat ya Ifan salam buat istrimu

    BalasHapus
  3. ternyata banjir nggak cuma di Jakarta.
    tapi santai saja sobat, ini keputusan yang tepat, ketika berkeluarga langsung hidup misah dari orang tua. selamat!

    BalasHapus
  4. sabar aja..semua kan dimulai dari yg susah dulu. kelak pasti dpt rumah yg lebih baik lagi

    BalasHapus
  5. sebelum nempati rumah sendiri, kami jg sempet pindah2 rumah kontrakan 4x

    BalasHapus
  6. salam kenal Pak!! sama dong saya juga tinggal di Jl. Gerilya Gg. mesjid tapi saya di Blok D, naik atas gunung. saya bahkan sudah 6 Thn tinggal di rumah sewaan tersebut, malas pindah karena sudah nyaman dengan lingkungan yang ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti, rumah saya dan ibu berdekatan saja ya. Tapi ya gitu deh bu, karena saya orangnya pemalu, nggak terlalu kenal dengan tetangga sekitar. Paling cuma tetangga yang disebelah dan didepan aja yang saya tahu. Lagian saya biasanya ada di rumah habis sepulang kerja saja sekitar jam 4 sore sama hari sabtu dan minggu. Selebihnya lebih banyak di kantor dan rumah orangtua saya.

      Hapus
  7. selamat ya bro smoga kesuksesan menyertai mu

    BalasHapus