Sabtu, 01 September 2012

Kenangan Di Kota Tarakan

Mendarat di Bandara Juwata Tarakan

Sebenarnya sudah beberapa kali mengunjungi Kota Tarakan. Tetapi seringnya kunjungan tersebut hanya sebagai tempat transit menuju kabupaten-kabupaten lain yang berdekatan dengannya, yaitu Nunukan & Malinau. Namun kali ini, aku berkesempatan kembali menginjakkan kaki di kota yang terletak di utara Provinsi Kalimantan Timur. Tepatnya pada tanggal 1 sd. 3 Agustus 2012 kemarin, aku bisa menelusuri dengan lebih mendalam jengkal demi jengkal dari Kota Tarakan yang luasnya hanya 657,33 km², dimana luas daratannya 250,80 km² dan luas lautnya 406,53 km².


Sebagaimana dikutip dari situs resmi Pemkot Tarakan dan juga Wikipedia Indonesia bahwa Kota Tarakan, yang secara geografis terletak pada 3°14'23" - 3°26'37" Lintang Utara dan 117°30'50" - 117°40'12" Bujur Timur, terdiri dari 2 (dua) pulau, yaitu Pulau Tarakan dan Pulau Sadau. Adapaun batas-batas wilayah sebagai berikut : sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pulau Bunyu, sebelah timur berbatasan dengan Laut Sulawesi, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Palas, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Sesayap dan Kecamatan Sekatak.

Ruas Jalan Yos Sudarso Tarakan

Kamar di Hotel Grand Taufik

Tarakan menurut cerita rakyat berasal dari bahasa tidung “Tarak” (bertemu) dan “Ngakan” (makan) yang secara harfiah dapat diartikan tempat para nelayan untuk istirahat makan, bertemu serta melakukan barter hasil tangkapan dengan nelayan lain. Selain itu Tarakan juga merupakan tempat pertemuan arus muara Sungai Kayan, Sesayap dan Malinau.

Letak dan posisi yang strategis telah mampu menjadikan kecamatan Tarakan sebagai salah satu sentra Industri di wilayah Kalimantan Timur bagian utara sehingga Pemerintah perlu untuk meningkatkan statusnya menjadi Kota Administratif sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.47 Tahun 1981. Status Kota Administratif kembali ditingkatkan menjadi Kotamadya berdasarkan Undang-Undang RI No.29 Tahun 1997 yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Menteri dalam Negeri pada tanggal 15 Desember 1997, sekaligus menandai tanggal tersebut sebagai Hari Jadi Kota Tarakan.

Di Depo Mr. Koki Acang, Jl. Yos Sudarso
Menu makanan yang tersedia
Menu Tom Yam Seafood

Lepas dari cerita sejarah diatas, harus diakui, Kota Tarakan sekarang ini telah menjelma menjadi kota yang perkembangannya begitu pesat di kawasan utara Kalimantan. Banyak para pendatang dari luar yang berbondong-bondong menuju ke kota ini mencari penghidupan yang layak. Mereka berasal dari suku bugis, suku jawa dan juga flores. Sampai-sampai populasi pendatang tersebut mengalahkan populasi dari suku asli itu sendiri, yaitu suku tidung.

Dan khusus untuk suku bugis (yang jumlahnya menurut kasat mataku lumayan banyak), jika diperhatikan kebanyakan dari mereka lebih memilih profesi sebagai nelayan, petambak udang, supir dan pedagang dalam menggantungkan mata pencaharian. Salah satunya bisa aku buktikan ketika berkunjung ke Pasar Sebengkok yang terletak di Jalan Yos Sudarso atau dikenal dengan kawasan jembatan besi. Disana, para perantau asal Pulau Sulawesi tersebut banyak menjajakan barang-barang kebutuhan asal negeri jiran Malaysia, seperti milo, biskuit, kosmetik, parfum, minyak angin, permen coklat sampai baju-baju bekas yang masih layak pakai alias roma (rombeng malaysia). Ada juga sih barang-barang produksi dalam negeri yang juga dijajakan, terutama bahan makanan yang berasal dari laut, yaitu ikan pipih tarakan dan kerupuk yang juga berbahan dasar dari ikan laut.

Produk coklat buatan Malaysia
Kue bolu buatan Malaysia
Milo buatan Malaysia

Yang pasti, produk-produk buatan Malaysia gampang sekali dijumpai di Kota Tarakan. Katanya sih, produk dari Malaysia lebih berkualitas dan murah. Contohnya saja, milo yang ukuran 2 kg dibanderol dengan harga Rp. 120.000,-. Disamping itu, masih kata orang-orang, kualitas Milo Malaysia lebih bagus dari Milo Indonesia karena ukurannya yang lebih halus dan tidak kasar. Entahlah, yang pasti aku pun tergoda untuk membeli produk-produk tersebut karena sangat langka dijumpai di daerah lain. Kalau di kotaku sendiri yaitu Samarinda, sebenarnya produk-produk tersebut terutama biskuit dan bolu-bolu buatan Malaysia ada juga dijumpai di minimarket, tapi harganya agak mahal dan ragamnya juga terbatas. Beda dengan yang ada di Kota Tarakan, dimana dengan leluasa dapat memilih produk-produk yang beragam tersebut dengan harga yang lebih miring. Jadi tidak mengherankan, jika datang ke Kota Tarakan, hal yang tak boleh dilewatkan adalah berburu barang-barang Malaysia.

Selain barang-barang buatan Malaysia, masih ada lagi yang khas dari Kota Tarakan, yaitu alat kilang minyak. Aku bisa menjumpai alat tersebut di beberapa kawasan, diantaranya di daerah Kampung 1 dan juga di kawasan Bandara Juwata Tarakan. Menurut informasi yang kubaca di internet, alat kilang minyak tersebut masih beroperasi menyedot minyak-minyak untuk dialirkan ke tangki-tangki dengan gerakan berayun keatas dan kebawah.

Produk kosmetik buatan Malaysia
Produk minyak angin buatan Malaysia

Untuk soal kuliner di Kota Tarakan, aku masih tidak terlalu mengerti. Maklumlah, kunjunganku kesana hanya 3 hari saja. Itupun lebih banyak dihabiskan di kamar hotel. Apalagi pada saat itu dalam suasana puasa, jadi malas untuk keluar. Alhasil, mencari makanan dilakukan disekitar area hotel saja. Kebetulan, disamping Hotel Grand Taufik yang kami inapi tersebut, terdapat rumah makan yang lumayan mewah. Namanya adalah Depo Mr. Koki Acang. Dari daftar menu yang kubaca, banyak sekali yang ditawarkan. Aku pribadi lebih memilih Tom Yam Seafood yang harga seporsinya adalah Rp. 30.000,- dan Lemon Tea dingin.

Kantor instansi tempat kunjungan kerja

Berpose di depan kantor

Banyak tempat di Kota Tarakan yang sebenarnya bisa diekplorasi lebih lanjut. Seperti Pantai Amal, Hutan Konversi Mangrove dan Bekantan, hingga Masjid Islamic Center Baitul Izzah. Namun karena perjalananku ini merupakan perjalanan dinas, jadinya lebih terfokus untuk urusan pekerjaan daripada jalan-jalannya tersebut. Tetapi, biarpun hanya sedikit yang bisa aku ketahui tentang Kota Tarakan ini, paling tidak aku selalu bisa merasakan kehangatan dan keindahannya. Dan pandanganku itu tidak berubah sejak pertama kali aku menginjakkan kaki ke kota ini pada tahun 2001 silam untuk keperluan berobat. Bedanya, dulu aku kesana dalam keadaan sakit, masih kuliah dan menggunakan kapal laut. Sekarang aku kesana dalam keadaan telah bekerja dalam rangka perjalanan dinas dan dengan menggunakan pesawat udara.

7 komentar:

  1. percuma200gr maksudnya freeisinya 200gr ya? :)

    BalasHapus
  2. aku belum pernah ke Tarakan, tapi pengen suatu saat bisa main kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan suatu saat bisa kesana ya

      Hapus
  3. wiiiih.... jalan-jalan terus nih pak Ifan Jayadi... XD

    BalasHapus