Minggu, 02 Desember 2012

Marah Menghabiskan Tabungan Amal

Pengertian marah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perasaan tidak senang. Sedangkan kemarahan menurut Wikipedia Bahasa Indonesia adalah suatu emosi yang secara fisik mengakibatkan antara lain peningkatan denyut jantung, tekanan darah, serta tingkat adrenalin dan noradrenalin. Apabila seseorang dilanda kemarahan biasanya sulit mengendalikan emosi yang meletup-letup. Kalau sudah begitu, tanpa sadar sering terucap caci maki yang menyakitkan hati sehingga kadang bisa berujung pada perkelahian fisik.

Banyak hal di lingkungan sekitar kita yang bisa menjadi pemicu kemarahan. Hal sepele pun kadang bisa menjadi pemicu kemarahan tersebut. Misalnya saja : Ada larangan untuk tidak boleh melintas di suatu tempat, tetapi kita tetap melanggarnya. Seorang satpam lalu menegur kita. Kita yang tidak terima dan tak mampu mengendalikan emosi merasa tersinggung. Nah, kalau sudah tersinggung biasanya minimal kita akan sibuk membela diri. Bisa jadi akan muncul perkataan dari mulut kita seperti ini, “Emangnya tempat ini punya nenek moyang loe?” dan disusul sederet perkataan lainnya sebagai senjata ampuh untuk membenarkan pembelaan diri kita tersebut.

Marah tentu adalah sifat yang tak terpuji dan dibenci oleh Allah SWT karena hanya akan melukai perasaan orang lain. Marah akan merusak hubungan persaudaraan kita dengan sesama manusia, disamping juga akan menjadikan tabungan amal kita habis dengan percuma. Seharusnya ketika marah datang, kita dapat menyikapinya dengan bijaksana. Untuk itu, ada beberapa kiat sederhana dari KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, dalam melatih diri agar kita tidak mudah marah.

Teknik pertama adalah jangan menilai lebih kepada diri kita. Jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, atau apapun, karena makin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita itulah yang membuat kita makin tersinggung. Jangan merasa diri lebih baik dari orang lain, agar kita tidak tamak kepada penghargaan. Kalau kita sudah tidak tamak itu akan lebih ringan, kita harus melatih diri kita untuk hanya merasa sekedar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali ilmu yang dipercikan oleh Allah sedikit, lebih banyak tidak tahu, kita tidak punya harta sedikitpun kecuali sepercik titipan Allah, kita tidak punya jabatan atau kedudukan sedikitpun kecuali sepercik yang Allah amanahkan. Dengan hanya sekedar hamba Allah maka akan ringan hidup kita ini, karena makin ingin dihargai, maka ingin dipuji, makin ingin dihormati, akan makin sering sakit hati.

Teknik yang kedua adalah kita harus melihat bahwa apapun yang dilakukan orang kepada kita itu bermanfaat kalau kita dapat menyikapi dengan sikap yang tepat. Maksudnya, kita ini tidak akan rugi dengan perilaku orang kepada kita kalau kita menyikapinya dengan silkap yang tepat, yang rugi itu adalah ketika kita salah menyikapi kejadian.

Teknik yang ketiga adalah kita harus empati, yaitu mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Seperti kisah dua orang yang sedang menuntun gajah. Orang pertama menuntun gajah di depan dan yang lainnya mengikuti di belakang. Ketika orang yang di depan berkata “Wah! betapa indah nian pemandangan dalam perjalanan ini.” Maka jangan heran jika ia dilempar oleh orang yang ada dibelakangnya, karena orang yang dibelakang sepanjang jalan pemandangan di depannya adalah pantat gajah. Oleh karena itu kita harus belajar empati, kalau tidak ingin mudah tersinggung, cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Maksudnya adalah supaya kita tidak mudah dongkol yang menyebabkan emosi dan tersinggung. Harus diingat seribu satu alasan yang kita buat dilakukan untuk memaklumi bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.

Teknik yang keempat adalah jadikan ladang peningkatan kualitas diri, jadi ketika menghadapi penghinaan itu sebuah kesempatan, pokoknya penghinaan, perilaku buruk orang kepada kita menjadi ladang bagi kita untuk mengamalkan sifat mulia yaitu memaafkan orang yang menyakiti, membalas keburukan dengan kebaikan. Yakinlah, episode disakiti adalah episode peningkatan kualitas diri. Wallahualam.

6 komentar:

  1. terima kasih tipsnya ya,s emoga bisa menjauhkan rasa marah

    BalasHapus
  2. pepatah bijak bilang "Siapa pun bisa marah. marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik. bukanlah hal yg mudah." :D

    BalasHapus
  3. apa kabar pak ifan jayadi? :)

    BalasHapus
  4. sama halnya dgn Tuhan memberikan sakit kpd kita.
    itu adalah sebuah ujian utk lbh meningkatkan kualitas diri..
    bnr gak sob?

    BTW, pa kbr? aku lg bikin GA, mudah2an kamu bs ikut pasrtisipasi ya sob?

    BalasHapus
  5. namun jika tak bisa manahan marah lebih baik diungkapkan daripada dipendam...
    :)

    BalasHapus