Jumat, 05 Juli 2013

Nur Afifa Adilla

Nur Afifa Adilla Pada Hari Pertama Dilahirkan

Nur Afifa Adilla adalah puteri pertamaku. Ia lahir pada hari Rabu, tanggal 5 Juni 2013, Pukul 18.08 wita, dengan berat badan 2,1 kg dan panjang 45 cm. Kelahirannya begitu dramatis karena meleset dari perkiraan kami sebelumnya. Ya, Dilla begitu kami memanggilnya diprediksi berdasarkan HPL (Hari Perkiraan Lahir) adalah pada bulan Juli ini. Dokter kandungan pertama (dr. Istianto - Praktek Bersama Tanjung Batu, Jalan Agus Salim) yang didatangi pada awal-awal kehamilan memprediksi pada tanggal 2 Juli 2013. Dokter kandungan kedua (dr. Nurul - Praktek di RS. Aisyiah, Jalan Hidayatullah) yang juga masih masa awal-awal kehamilan kami datangi memprediksi pada tanggal 9 Juli 2013. Sementara saat memasuki pertengahan masa kehamilan, konsultasi kami lakukan dengan mendatangi bidan di 3 lokasi yang berbeda (Jalan Merdeka I, Merdeka III, dan di Klinik Harmonika Agus Salim) memprediksi bahwa kelahiran anak kami pada akhir Bulan Juli 2013. Anehnya lagi, selama di USG, baik dokter maupun bidan, kami tidak pernah tahu jenis kelaminnya. Ini disebabkan karena posisi bayi yang sungsang dan kakinya yang selalu menutup kelaminnya.
 
Proses melahirkan Dilla begitu tiba-tiba sekali. Aku ingat sekali, ketika pulang dari kantor ke rumah untuk istirahat makan siang, kondisi isteriku baik-baik saja. Kemudian, isteriku makan bakso. Selang beberapa menit kemudian, isteriku menderita kesakitan dibagian perut. Kami berpikir bahwa rasa sakit itu adalah hal lumrah sama seperti sakit-sakit sebelumnya. Tapi, ternyata rasa sakit itu tidak mau hilang. Lalu, suami dari adikku menawarkan bantuan untuk mengantar isteriku ke Kinik Harmoni agar diperiksa. Sementara aku mengikutinya dari belakang. Sesampainya di klinik tersebut, ternyata bidannya lagi dinas luar. Isteriku kemudian ditangani oleh asistennya. Setelah diperiksa, asisten tersebut mengatakan bahwa hal itu (rasa sakit) tidaklah apa-apa. Menurutnya kemungkinan hal itu adalah karena kandungannya akan mulai turun kebawah. Ia lalu memberi beberapa obat pereda rasa nyeri. Berdasarkan penjelasannya, aku agak tenang dan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Sementara isteriku kusuruh beristirahat saja di rumah.

Sekitar jam 15.00 wita, tiba-tiba ibuku menelponku dan menyuruhku untuk segera pulang ke rumah karena isteriku sepertinya akan segera melahirkan. Istriku juga ikutan menelponku dan mengatakan bahwa sepertinya air ketubannya telah pecah. Aku lalu bergegas kembali ke rumah. Tiba di rumah, keluarga lalu berunding untuk membawa segera isteriku ke rumah sakit. Sebenarnya keluarga menawarkan pilihan untuk pergi ke Rumah Sakit Islam Samarinda. Tetapi isteriku memilih untuk ke RSUD. AW. Syahranie saja dengan berasumsi bahwa belum tentu rasa sakit itu adalah pertanda melahirkan. Akhirnya, setelah beberapa kali menelpon suami adikku untuk meminta bantuannya agar mengantarkan kami ke rumah sakit, berangkatlah kami ke RSUD. AW Syahranie. Ada beberapa orang yang ikut mendampingi, yaitu : Ibuku, Kakak Asnah, Dina beserta suaminya dan kedua anaknya yang juga keponakanku, yaitu Nisa dan Haikal. Di dalam mobil, ternyata rasa sakit yang dialami isteriku semakin menjadi-jadi. Apalagi perjalanan menuju ke rumah sakit macet karena mungkin jam pulang kerja. Keluargaku kembali menawarkan apakah ke RSUD. AW. Syahranie atau Rumah Sakit Islam. Isteriku tetap bersikeras untuk di RSUD. AW. Syahranie karena pikirnya biaya rumah sakit disana akan dicover penuh oleh Askes.

Hasil Pemeriksaan USG Di Dokter kandungan pada masa-masa kehamilan

Tiba di RSUD. AW. Syahranie, kesakitan yang dialami isteriku semakin tidak terkendali. Lalu aku bergegas menuju ruang pendaftaran dan diarahkan oleh petugasnya untuk menuju ke Ruang IGD. Di Ruang IGD tersebut isteriku diperiksa oleh perawat dan alangkah terkejutnya kami ketika perawat tersebut mengatakan bahwa isteriku sudah mengalami bukaan enam. Aku menjadi panik seketika dan meminta kepada petugas dibagian administrasi untuk segera mengambil tindakan. Tidak lupa aku menyebutkan beberapa riwayat penyakit yang pernah dialami oleh isteriku dan juga kondisi bayi yang sungsang. Aku juga meminta agar isteriku bisa dilakukan operasi sesar sesegera mungkin. Petugasnya mengatakan bahwa untuk operasi sesar di Ruang Perawatan Mawar tidak bisa dilakukan secepatnya karena harus menunggu dokter. Sementara melihat kondisi isteriku yang sudah tidak kuat lagi, aku menjadi kebingungan. Aku lalu bertanya apakah bisa dilakukan operasi sesar apabila dilakukan Ruang Perawatan Teratai (Ruang VIP). Petugasnya menjawab bisa dan akan segera menghubungi dokter dengan terlebih dahulu mewanti-wanti bahwa biaya perawatannya bisa mencapai Rp. 25 juta dipotong askes. Aku yang mendengar tersebut menjadi terhenyak. Dimana aku mendapatkan uang sebanyak itu? Aku lalu berunding dengan keluarga mengenai biaya tersebut. Kami berencana untuk ke RS. Islam saja. Tapi ibuku mengatakan bahwa biar saja untuk melahirkan di RS ini karena kondisi isteriku yang sudah benar-benar emergency dan butuh segera pertolongan untuk melahirkan mengingat sudah mulai mencapai bukaan sembilan. Akhirnya aku menerima tawaran tersebut meski memendam kekesalan dihati. Bagaimana bisa Rumah Sakit itu mengatakan bahwa untuk melahirkan operasi sesar di Ruang Perawatan Mawar (yang gratis apabila menggunakan fasilitas Askes) harus menunggu dokter terlebih dahulu sementara kalau melahirkan di Ruang Perawatan Teratai yang notabene VIP dan mahal, dokternya bisa segera dihubungi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dan aku lalu berpikir, bahwa RS memang tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya sisi komersil. Meski begitu aku terima saja karena keadaan yang tidak berdaya ini. Urusan biaya, aku bisa hutang sana-sini.

Singkat cerita, lahirlah NUR AFIFA ADILLA yang dalam proses persalinannya harus dilalui dengan operasi sesar. Adapun dokter yang membantu menangani persalinan tersebut adalah dokter Handy, Sp.OG. Namun, Dilla belum bisa bergabung dengan kami. Dilla masih harus berada di dalam inkubator di Ruang Perawatan Mawar dibagian VIP. Tapi aku sempat mengiqomahkan Dilla sesaat setelah ia dikeluarkan dari perut ibunya di lantai 3 ruang operasi. Ia begitu kecil mungil dan kakinya pada saat itu terberangkang akibat posisi sungsang selama kehamilan. Sementara isteriku yang masih dalam perawatan ditempatkan di Ruang Teratai 4 Kamar 4. Selama di Rumah Sakit, banyak hal yang harus aku urus. Aku harus bolak-balik ke Askes Center dan juga Apotik untuk mengurus obat dan tetek bengeknya. Mana RS tersebut luasnya minta ampun sehingga membuat kaki ini kelelahan. Duh, ternyata meski sudah berada di ruang perawatan vip, masih harus juga kesana kemari. Oh ya, saat masuk ke Ruang Perawatan Teratai tersebut, aku harus membayar panjar terlebih dahulu. Untungnya, aku berhasil mendapatkan pinjaman instans sehingga aku langsung saja memanjarinya sebesar Rp. 10 juta.

Hari kedua di RS, orangtua isteri dari Balikpapan datang menjenguk. Sehingga dalam beberapa hari tersebut, mertua ikut menginap di RS. Sayangnya, karena Dilla masih di inkubator, jadinya mereka hanya dapat melihat cucunya tersebut dari kejauhan saja. Isteriku pun baru bisa melihat Dilla saat hari ketiga, yaitu hari Jumat. Itupun juga masih belum bisa menyusui dengan sempurna karena puting susunya yang masuk kedalam sehingga Dilla kesulitan untuk menghisapnya. Ini tentu sangat menyusahkan karena kami harus bolak-balik dari Ruang Perawatan Teratai ke Ruang Perawatan Bayi di Mawar untuk terus mengetahui dan memantau kondisinya.

Dilla sewaktu di inkubator

Sebenarnya isteriku sudah bisa pulang pada hari Sabtu sebagaimana hasil pemeriksaan dari dr. Handy. Namun, berhubung Dilla masih belum bisa bergabung dengan kami di Ruang Perawatan Teratai maka kami memutuskan untuk sekalian saja pulang pada hari Senin. Dan saat tiba pada hari Senin tersebut, pagi-pagi sekali aku dan isteri ke Ruang Perawatan Bayi di Mawar untuk berkonsultasi dengan dokter anak, yaitu dokter Sukartini. Kami menanyakan apakah bayi kami bisa segera dibawa pulang. Ternyata menurut penjelasan dokter tersebut, kondisi Dilla masih belum sehat. Matanya masih terlihat sayu. Trombositnya juga hanya 90.000 dimana normalnya harus mencapai 200.000. Ini disebabkan karena Dilla kemungkinan sempat terminum air ketuban sehingga mengalami infeksi. Disamping itu, beratnya yang hanya 2,1 kg juga bisa dianggap sebagai bayi prematur. Mendengar penjelasan tersebut, lunglailah kami. Dokter itu menyarankan kami untuk tetap tinggal sampai kondisi si bayi membaik. Ia dan staf manajemen di Ruang Perawatan Mawar memberi saran agar isteriku keluar saja dari Ruang Teratai, lalu selanjutnya digantikan oleh bayi kami sebagai pasien baru di ruang vip tersebut. Meski berat karena biaya akan bertambah, akhirnya kami turuti juga saran tersebut dengan asumsi bahwa keesokan harinya, kondisi Dilla mungkin bisa stabil sehingga bisa dibawa pulang pada hari Selasa.

Kenyataannya, saat Dilla berada di Ruang Perawatan Teratai, kondisinya tidak malah membaik. Bagaimana mau bisa membaik kalau Dilla harus bergabung dengan pasien dewasa lainnya. Maklum saja, Ruang Teratai 4 yang kami tempati tersebut, 1 kamar untuk 2 pasien. Tentu kami tidak bisa apa-apa dengan suasana yang kadang gaduh oleh keramaian keluarga pasien sebelah. Akibatnya, semalaman itu Dilla terus-terusan menangis dan rewel. Selain karena kurang nyaman di ruangan tersebut, juga selang infus yang disuntikkan dibadannya menyulitkan ia untuk bergerak. Belum lagi perawat disana yang kurasa agak kurang perhatian dengan kondisi bayi. Misalnya saja, tidak ada inisiatif untuk mengganti popok dan membersihkan (menyeka) si Dilla pagi hari setelah bangun tidur. Sepertinya harus dipanggil dan diminta bantuan dulu, baru mereka akan mengontrol keadaan bayi. 

Dilla di rumah dan sering begadang di malam hari

Tidak tahan dengan situasi tersebut, pagi harinya setelah dokter anak memeriksa keadaan si Dilla dan juga tidak terlalu memberikan penjelasan yang signifikan, kami nekat untuk membawa pulang si Dilla dengan atau tanpa rekomendasi si dokter anak tersebut. Pihak rumah sakit, dalam hal ini para perawatnya agak menyayangkan sikap kami. Mereka memberikan data trombosit terakhir Dilla yang malah turun menjadi 80.000 dan seharusnya masih perlu perawatan lanjut. Kami sebenarnya agak bimbang dengan kondisi tersebut. Tapi setelah berunding dengan keluarga, kami memutuskan untuk pulang saja. Tentu saja, karena kami membawa pulang Dilla tanpa rekomendasi dokter anak, maka aku sebagai ayahnya harus menandatangani surat yang isinya menyatakan bahwa apabila terjadi sesuatu dengan bayi, maka pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab. Istilahnya adalah pulang paksa. Meski berat, aku tandatangani juga surat tersebut. Selanjutnya, aku menuju ke ruang administrasi yang terletak disamping Ruang Perawatan Teratai 3 untuk penyelesaian pembayaran. Total biaya rumah sakit adalah Rp. 18 jutaan lebih. Dipotong biaya askes sebesar Rp. 6 jutaan lebih sehingga yang harus kami bayar sebesar Rp. 12 jutaan lebih. Lumayan mahal sebenarnya mengingat kami cukup lama tinggal di rumah sakit yaitu sekitar 7 hari, dimulai dari hari Rabu Sore, tanggal 5 Juni 2013 sampai dengan hari Selasa Siang, tanggal 11 Juni 2013. Selain itu, kelahiran yang sifatnya emergency dan dokter yang menangani isteriku sebanyak 4 dokter (dokter kandungan, dokter anastesi, dokter anak, dan dokter penyakit dalam) turut menambah pembengkakan biaya.

Untuk memulihkan keadaan si Dilla, maka Dilla terus diusahakan untuk mendapat ASI dan juga diselingi dengan pemberian susu formula, dalam hal ini yaitu susu formula Nutribaby Premature. Memang, tidak serta merta bisa memulihkan kondisinya. Karena sampat saat inipun, kondisi Dilla masih juga belum stabil. Bahkan ia kadang mengalami kesulitan dalam bernapas karena hidungnya yang mampet dan juga sering mengalami batuk dan pilek. Malam juga masih sering rewel dan menangis. Agak tenang kalau ia diayun. Itupun kadang tidak bertahan lama. Jika ayunannya diam ditempat, bisa dipastikan dalam waktu yang tidak terlalu lama Dilla akan kembali menangis. Keadaan ini membuat aku dan isteri harus sering begadang. Akibatnya kondisi fisik kami drop karena kelelahan kurang tidur. Apalagi sekarang ini hanya aku dan isteri yang menjaga Dilla di malam hari. Memang, waktu awal-awal, ada ibuku yang juga ikut menemani. Tetapi kami menyadari tidak bisa juga terus bergantung dengan orangtua karena mereka pun juga punya kesibukan masing-masing. Namun begitu, bantuan keluarga tetap menjadi penolong kami dalam merawat Dilla, terutama tantenya yang begitu sigap dalam mengurus Dilla karena sudah punya pengalaman terlebih dulu dalam mengurus anak. Dan pada akhirnya aku baru bisa merasakan betapa beratnya menjadi orangtua. Baru menyadari juga bahwa selama ini kadang kita bersikap kurang baik terhadap orangtua padahal pengorbanan mereka dalam mengurus kita sewaktu kecil adalah luar biasa.

Saat ini, berat badan Dilla hanya tambah 0,5 kg, sehingga total berat badannya adalah 2,6 kg. Penimbangan pertama setelah keluar dari rumah sakit tersebut dilakukan di Klinik Harmoni, Jalan Agus Salim pada hari Senin, 1 Juli 2013. Dengan berat badan yang kurang 3 kg itu, otomatis Dilla belum bisa divaksin. Aku sebenarnya agak kecewa. Tapi aku masih berharap, agar beberapa hari kedepan berat badannya bisa naik. Begitupun dengan trombositnya, mudah-mudahan bisa naik meskipun sampai sejauh ini belum lagi dilakukan pemeriksaan. Dan yang paling penting sekarang ini adalah agar hidung Dilla yang sering mampet bisa segera sembuh sehingga ia bisa bernafas dengan lega.

Dahi dan hidung Dilla diberi kunyit untuk meredakan mampetnya

Dengan apa yang telah terjadi pada diriku, ternyata banyak hal yang tadinya telah direncanakan dengan matang menjadi berantakan. Skenarionya adalah :
  • Pertengahan Juni 2013 berencana untuk memeriksakan kehamilan isteri ke Dokter Kandungan, yaitu Dokter Novi yang praktek di Jalan Danau Toba sekaligus meminta surat rujukan agar bisa melahirkan di RSUD AW. Syahranie  secara sesar. Kenyataannya adalah belum sempat periksa ke dokter tersebut, Dilla duluan lahir ke muka bumi ini.
  • Rencananya dengan surat rujukan tersebut, bisa melahirkan secara sesar di Ruang Perawatan Mawar agar biaya bisa ditanggung Askes secara gratis. Kenyataannya, persalinannya berlangsung di Ruang Perawatan Teratai yang biayanya lumayan mahal dan menguras kantong sehingga harus pinjam sana-sini.

Semuanya telah terjadi. Dan apapun yang telah terjadi tersebut harus tetap dijalani, suka ataupun tidak suka. Berusaha untuk tetap berbaik sangka bahwa apa yang menjadi takdir-Nya adalah yang terbaik untuk kehidupan kita. Hanya berdoa dan berharap agar Nur Afifa Adilla bisa selalu sehat wal afiat, tumbuh dan berkembang bersama orangtuanya, menjadi anak yang sholehah dan beriman kepada Allah SWT dan Rasulnya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Dilla yang tiap malam begadang, diambil pada tanggal 28 Juli 2013, pukul 01.12.35 wita

14 komentar:

  1. Ikut senang atas kelahiran putri tercinta

    BalasHapus
  2. selamat yah buat kelahiran nya.,.,.,

    BalasHapus
  3. selamat ya kawan dah diberi momongan hehehe

    BalasHapus
  4. Selamat atas kelahiran putrinya ya :)

    BalasHapus
  5. selamat untuk putri pertamanya, namanya bagus tuh...

    BalasHapus
  6. Selamat ya atas kelahiran putri pertamanya :-)

    BalasHapus
  7. Wah selamat ya kak dah dapat momongan. Ane malah belum dapat pasangan hidup nih :-)

    BalasHapus
  8. alhamdulillah, selamat datang di planet bumi Nur Afifa Adilla.....

    Semoga jadi kebanggaan keluarga dan berbakti pada bangsa dan negara, minum susu yg banyak ya!

    BalasHapus
  9. wah.. namanya cantik...
    selamat datang di dunia dek Dilla... :)

    BalasHapus
  10. alhamdulillah, semoga Nur Afifa Adilla senantiasa sehat bahagia selalu dalam lindungan ALLAH...salam :-)

    BalasHapus
  11. Wah lucunya, imut banget. Selamat yah om, semoga menjadi anak yang sholehah dan membanggakan ayah bunda nya :)

    BalasHapus