Sabtu, 02 November 2013

Praktek Kerja Lapangan

Lambang PT. Berau Coal versi lama
Berbicara tentang perkuliahan, hal utama yang menjadi momok bagi sebagian mahasiswa pastilah penyelesaian tugas akhir. Tugas akhir menjadi sebuah proses penting yang akan menentukan nasib si mahasiswa dalam merengkuh gelar kesarjanaan. Tentu untuk bisa berhasil dalam penyelesaian tugas akhir akan banyak hadangan yang dijumpai. Hadangan tersebut sangat tidak mudah dan untuk melewatinya diperlukan beberapa tahapan. Salah satunya adalah melakukan riset terhadap obyek yang akan dijadikan bahan utama penulisan tugas akhir. 

Begitupula yang berlaku pada diriku saat menempuh perkuliahan 13 tahun silam di Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman Samarinda, dengan mengambil Program Studi Diploma III Teknik Pertambangan. Banyak hal yang harus aku hadapi untuk menyelesaikan tugas akhir tersebut. Untuk menyelesaikannya, hal pertama yang harus dilakukan adalah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Duh, mendengar kata PKL saja, rasanya badan ini sudah panas dingin alias meriang. Bagaimana tidak, untuk melaksanakan PKL berarti harus ke suatu tempat (instansi/perusahaan). Apalagi karena yang diteliti adalah pertambangan batubara, maka tempat-tempat PKL tersebut lokasinya lumayan jauh. Dengan lokasi yang lumayan jauh itu membuat diriku jadi ciut. Maklum saja, aku ini adalah anak rumahan yang sangat jarang terpisah dari orangtua. Namun, mau tidak mau harus tetap melaksanakannya demi sesuatu yang aku sendiri tidak yakin dengan sesuatu itu.

@@@@@

Aku bersama kedua temanku, yaitu Sholeh Hermawan (dari Jawa Barat) dan Eko Hartanto (dari Samarinda) mendapatkan tempat PKL di PT. Berau Coal, Kabupaten Berau. Seingatku, pada waktu itu, sebelum sholat Jum’at berlangsung, kami bertiga berkumpul di Pelabuhan Samarinda di Jalan Yos Sudarso (diseberangnya ada Klenteng Thian Gie Kiong). Dari pelabuhan ini, kami berangkat menggunakan Kapal Teratai Kayu untuk berlabuh menuju ke Kota Tanjung Redeb. Tentu saja naik kapal laut merupakan pengalaman pertama bagiku. Sensasinya luar biasa sekali. Aku bisa merasakan hembusan angin kencang yang dengan bengisnya mengacak-acak rambutku menjadi berantakan. Tapi hal itu bukanlah menjadi persoalan besar karena mata inipun dipuaskan dengan pemandangan indah di lautan biru yang luas membentang sehingga mampu menggugah diri ini untuk bertafakur mengagumi kekayaan alam ciptaan Allah SWT. Pada malam hari suasana malah sebaliknya. Hanya gelap dan hening yang membisu. Seakan kehidupan itu terhenti untuk sesaat.

Kapal kayu ternyata rawan sekali dengan yang namanya goncangan. Dan benar saja, saat cuaca tidak sedang bersahabat, kapal kayu tersebut dengan mudahnya diombang-ambingkan ombak yang bergelora. Temanku si Eko ternyata tidak kuat dengan goncangan tersebut dan akhirnya harus memuntahkan seluruh isi didalam perutnya. Untunglah aku masih mampu menahan untuk tidak sampai mengalami hal yang sama. Tapi kondisi sebenarnya didalam perut ini sudah tidak karuan lagi dan seakan-akan seperti diobok-obok. Malangnya, aku juga mengalami kecelakaan lain yang membuat kakiku memar. Saat itu ketika hendak buang air kecil di wc yang terletak ditingkat bawah, ombak besar terjadi. Kapal bergoyang dengan amat kuat sehingga membuat diriku agak limbung. Spontan kakiku terpeleset dan membentur kayu ulin yang keras. Akibatnya aku harus menahan rasa sakit yang luar biasa dibagian kaki yang terpeleset itu.

Keesokan harinya, sekitar jam 5 sore, kapal kayu itu akhirnya bersandar di Pelabuhan Teratai, Tanjung Redeb. Kami disambut oleh Endah, teman si Eko yang juga kuliah di Fakultas Ekonomi Unmul Samarinda. Kami lalu dibawanya ke sebuah losmen yang murah meriah ditengah kota. Di losmen tersebut kami sempat menginap semalam. Baru keesokan harinya kami ke rumah Endah yang (kalau tidak salah ingat) beralamat di Jalan Mangga. Di rumahnya, kami diperkenalkan dengan kedua orangtuanya, seorang adik perempuannya, dan seorang pamannya. Saat kami mengutarakan untuk mencari tempat kost-an, ternyata orangtua si Endah malah menawari kami untuk tinggal di rumahnya saja. Tanpa pikir panjang, kamipun menerima tawaran tersebut.

@@@@@

Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan di PT. Berau Coal berlangsung selama 8 minggu, bermula pada hari Selasa, 21 Agustus 2001 dan berakhir pada hari Senin, 15 Oktober 2001. Jadwal masuk kerjanya dari Senin sd. Sabtu, mulai pagi sd. sore hari. Tetapi pada hari Sabtu diperbolehkan untuk pulang lebih awal, sekitar jam 2 siang. Awal-awal pertama PKL di PT. Berau Coal ini, kami ditempatkan di Site Binungan yang berlokasi di Kecamatan Sambaliung. Selanjutnya, saat mulai melakukan pengambilan data untuk tugas akhir, kami lalu dipencar. Dua temanku tetap ditempatkan di Site Binungan karena data yang ingin mereka ambil ada disana. Sementara karena tugas akhirku mengangkat topik kualitas batubara, ditempatkanlah aku di Site Lati yang berlokasi di Desa Sembakungan, Kecamatan Gunung Tabur. Di Site Lati inilah terdapat bagian Quality Control yang bertugas memantau kualitas batubara setiap harinya. Disamping itu, disini juga tersedia laboratorium yang dioperasikan oleh pihak ketiga, yaitu PT. Sucofindo. Oh ya, untuk sampai ke lokasi PKL, harus menempuh 2 jalur, yaitu :

  • Dari rumah menuju Pelabuhan PT. Berau Coal di Jalan Pemuda harus berjalan kaki demi menghemat pengeluaran. Berangkatnya pagi-pagi sekali supaya tidak ketinggalan speed.
  • Dari pelabuhan ke lokasi (Site Lati dan Site Binungan) harus ditempuh melalui jalur sungai menggunakan speedboat. Nama sungainya adalah Sungai Kelay. Tentu saja sebelum naik speed, alat keselamatan berupa baju pelampung harus selalu dikenakan. Menumpangi speedboat berkecepatan tinggi yang menyusuri Sungai Kelay menjadi pengalaman yang menyeronokkan. Di kanan kiri tepi sungai, terhampar pepohonan hijau nan lebat yang menjadi ciri khas hutan tropis Kalimantan. Entahlah, bagaimana nasib hutan-hutan tersebut sekarang ini.

Balik ke cerita di Site Lati, dimana aku ditempatkan pada bagian Quality Control. Aku kemudian dibimbing oleh Bapak Hana Mulyana untuk pengambilan data tugas akhir. Tugas akhirku sendiri mengambil judul : Perubahan Nilai Total Moisture Batubara Dari Pit Lati Sampai Pengapalan Di PT. Berau Coal – Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur.

Dari awal kami sudah diberitahu bahwa diakhir kegiatan PKL, kami harus membuat laporan yang selanjutnya akan dipresentasikan dihadapan orang-orang yang berkompeten dibidangnya. Mengetahui hal tersebut, jauh hari sebelumnya aku berusaha keras belajar dengan penuh kesungguhan supaya pada saat presentasi berlangsung, aku tidak terlihat bodoh-bodoh amat. Coba saja bayangkan, mempresentasikan laporan dihadapan orang-orang yang berkompeten pasti sesuatu yang amat berat untuk dilakukan. Belum presentasi saja tangan ini sudah mulai keringat dingin dan perut terasa mules-mules. Alhasil, walaupun presentasi tersebut pada akhirnya bisa dilalui, tetapi hasilnya tetap saja tidak maksimal.

Oh ya, untuk mengetik laporan, aku terpaksa harus shift malam karena tidak mungkin meminjam komputer pada saat shift siang dimana orang-orang pada sibuk bekerja. Tentu saja karena tidak terbiasa shift malam, aku merasa mengantuk berat saat berada di rumah dipagi harinya. Untuk itulah, kadang-kadang disela-sela mengetik laporan, aku berusaha sempatkan tidur barang 1 sd. 2 jam. Lumayan karena dapat sedikit memulihkan tenagaku untuk kembali melanjutkan pengetikan laporan. Hal yang paling kuingat saat mengetik di malam hari itu adalah alunan suara Mariah Carey dengan lagunya yang berjudul Do You Know. Ya, suara sang diva tersebut setia menemaniku lewat fasilitas mp3 di winamp komputer. Tanpa aku sadari, kemampuan mengetikku jadi terasah akibat membuat laporan. Padahal sebelumnya benar-benar payah. Memang pada waktu itu, aku juga bisa mengetik di Ms. Word tetapi dengan kemampuan yang amat minim.

Pada akhirnya, kegiatan PKL usai juga. Ada 3 hal yang masih kuingat sewaktu menyelesaikan PKL di PT. Berau Coal, yaitu :

  • Mendapatkan uang saku, yang kalau tidak salah jumlahnya Rp. 750.000,-. Aku menghitungnya di Toilet lho karena saking tidak sabarnya ingin mengetahui jumlah yang didapat.
  • Uang tersebut lalu aku gunakan untuk membeli oleh-oleh berupa Minuman Milo bubuk, biskuit-biskuit asal Malaysia, dan juga telur penyu.
  • Karena masih ada sedikit sisa, maka kami bertiga bersepakat patungan untuk memberi uang kepada si pemilik yang kami tumpangi rumahnya tersebut.

Balik ke Samarinda kami tidak bersama-sama lagi. Aku dan Sholeh masih menggunakan transportasi kapal laut. Tetapi kali ini yang terbuat dari besi sehingga efek goncangan saat ombak besar tidak terlalu terasa. Nama kapal tersebut adalah Kapal Teratai Prima. Sengaja memilih kapal laut mengingat untuk buang air besar/kecil relatif lebih mudah dilakukan dalam perjalanan yang memakan waktu berjam-jam. Sementara Eko lebih memilih menggunakan bus demi menghindari mabuk laut yang ia derita sewaktu berangkat. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan tersebut, dihari Minggu yang cerah, sekitar jam 11 siang, kapal merapat di Pelabuhan Samarinda. Dan setelah kegiatan PKL itu, aku mengalami penyakit misterius.

Ini bukan di PT. Berau Coal. Kalau tidak salah, ini pose waktu praktek 3 hari bersama rombongan kampus di PT. KPC, Kab. Kutai Timur. Foto ini hanyalah sekedar ilustrasi bagaimana kondisi lingkungan di pertambangan itu sendiri.

3 komentar:

  1. kalau sekarang sudah gak di berau juga ya? temanku ada di berau tuh sekarang krn suaminya kerja disana

    BalasHapus
  2. lho kena penyakit apa bro?

    BalasHapus