Minggu, 02 Februari 2014

Suatu Sore Di Bulungan


Bulungan mungkin dulunya adalah salah 1 kabupaten yang keberadaannya tidak begitu menonjol saat masih menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Timur. Namun, sejak terbentuknya Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), maka Bulungan seakan memegang peranan penting karena telah menjadi wilayah yang ditetapkan sebagai ibukota provinsi. Pemilihan Bulungan sebagai ibukota Provinsi Kaltara tentu telah melalui kajian yang mendalam sehingga kalaupun ada pihak-pihak yang mempersoalkannya sepertinya lebih didasarkan karena kepentingan-kepentingan pribadi/kelompok. Dari beberapa referensi yang pernah kubaca diketahui bahwa faktor utama yang menjadikan Bulungan ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Kaltara adalah karena Bulungan masih memiliki lahan yang cukup luas sehingga untuk pengembangan pembangunan perkotaan kedepannya akan lebih mudah. Selain itu, faktor historis juga menjadi hal yang dipertimbangkan, dimana Kabupaten Bulungan dulunya adalah kabupaten induk yang telah dimekarkan menjadi beberapa kabupaten dan kota, yaitu Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung dan Kota Tarakan. 

Salah 1 ruas jalan di Tanjung Selor
Becak merupakan salah 1 hiburan masyarakat
Pusat perbelanjaan di Tanjung Selor

Terlepas dari semua itu, Kabupaten Bulungan dari kacamata penglihatanku harus terus berbenah karena infrastruktur yang ada masih terbatas. Bukan tanpa sebab aku mengatakan hal ini. Dua kali menginjakkan kaki ke kota Tanjung Selor (ibukota dari Kabupaten Bulungan), pendapatku masih tetap sama tentangnya, yaitu kabupaten dengan suasana sepi dan hening. Saat berjalan-jalan ke beberapa sudut kota, tidak banyak keramaian yang kutemukan. Kendaraan yang melintas di jalan raya masih mudah untuk dihitung dengan jari. Bangunan sekelas hotel berbintang I atau II jarang terlihat. Bahkan pusat perbelanjaan modern yang ada hanya sekelas minimarket biasa. Saat malam hari, makin hening lagi kota ini. Jam 20.00 saja, kegiatan seakan sudah mulai terhenti.

Tapi dibalik segala keterbatasan itu, ada hal yang tetap harus disyukuri dari Kabupaten Bulungan ini, yaitu suasana yang hening menciptakan rasa tenang. Tenang dari segala hiruk pikuk kehidupan kota besar di luar sana yang penuh dengan tingkat kestresan. Di Bulungan, aku yakin hampir-hampir tidak pernah terjadi yang namanya kemacetan. Selain karena jumlah kendaraan yang normal, ruas-ruas jalan rayanya juga lebar-lebar dan jarang mengalami kerusakan. Kalau sudah begitu, nyaman rasanya berjalan kaki menyusuri jalan raya yang lengang.


Pelabuhan Kayan 2 terletak di Sabanar Baru (Sengkawit)
Speed transportasi andalan penghubung ke daerah sekitar

Saat kembali bertandang ke Tanjung Selor untuk kali yang kedua, pada tanggal 23 sd. 24 Oktober 2013, aku bisa melihat bahwa pohon-pohon tropis yang tumbuh subur di sepanjang Sungai Kayan menandakan bahwa alam Bulungan masih asri. Untuk itu, aku tidak melewatkan momen di sore hari dengan bersantai di Tepian Sungai Kayan hanya untuk memandang hijaunya pepohanan diseberang sana sambil sesekali memperhatikan kapal-kapal kecil yang melintas. Lalu, secara tiba-tiba datanglah serombongan anak-anak kampung yang tanpa ragu membuka pakaian mereka dan berenang di sungai yang lumayan berarus deras tersebut. Tentu saja aktifitas mereka itu sedikit membuyarkan lamunanku. Tapi saat melihat raut kegembiraan terpancar di wajah mereka, aku menjadi tersenyum. Bahkan tanpa malu-malu mereka memintaku untuk memfoto mereka saat melakukan beberapa gerakan salto.

Sungai Kayan yang luas membentang
Anak-anak riang gembira berenang di Sungai Kayan
Menginap di Hotel Tawakkal, Jl. Semangka Tj. Selor. Biayanya murah.

Memang harus diakui masih sedikit hal yang aku ketahui tentang Bulungan yang elok ini. Itupun bersumber dari berita-berita di internet yang juga masih minim. Padahal kalau ingin lebih mengenalnya, banyak hal yang bisa dieksplor saat berada disana, terutama sekali warisan budaya lokal suku asli setempat, yaitu Suku Tidung. Bukan hanya itu, di setiap tahun digelar perayaan Birau yang mengetengahkan pesta adat dan seni budaya yang berakar dari tradisi Kesultanan Bulungan. Dan tentu tidak lengkap rasanya jika ke Bulungan tidak mengunjungi Museum Bulungan. Dari Museum Bulungan inilah akan dapat kita ketahui tentang jejak sejarah kejayaan Kesultanan Bulungan dimasa lalu hingga akhirnya mengalami keruntuhan akibat tragedi pilu tahun 1964 yang dikenal dengan istilah BULTIKEN (Bulungan Tidung Kenyah). Jika menurutkan hati, rasanya ingin sekali mengenal lebih jauh jejak-jejak kejayaan Kesultanan Bulungan itu dengan mengunjungi museumnya yang terletak di Jl. Kasimuddin, Kecamatan Tanjung Palas. Namun sayang beribu sayang, hasrat itu tidak pernah kesampaian meski telah pernah berada di Bulungan sebanyak 2 kali. Menyesal tentunya.

5 komentar:

  1. bentuk becaknya berbeda dengan yang ada di sini ya

    BalasHapus
  2. sungainya luas banget, dari foto kliatannya kayak laut. Boleh nih kapan2 aku maen ke sini, aku juga seneng tempat yang ga rame & msh orisinil kayak gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sungai-sungai di Kalimantan memang rata2 luas. Tidak seperti di Jawa yang hanya beberapa meter saja luasnya.

      Hapus
  3. Ternyata disana ada becak juga ya? Namanya emang becak gitu?

    BalasHapus
  4. Meski ibukota provinsi jalannya masih relatif lengang ya?
    Kalimantan Utara... provinsi baru yang emang belum banyak aku ketahui tentangnya.

    BalasHapus